"Kami merespons cepat laporan insiden tersebut...
Fokus utama dan prioritas tertinggi kami saat ini adalah keselamatan semua orang di kapal, dan kami mengerahkan operasi penyelamatan terkoordinasi," ujar Heri Purwanto.
Kapal penyelamat pertama yang membawa korban selamat tiba sebelum malam di dermaga Banjarmasin, kota di pantai selatan Pulau Kalimantan.
Beberapa korban selamat dibawa dengan tandu ke ambulans yang menunggu, sementara yang lain ditempatkan di kursi roda atau membutuhkan bantuan untuk berjalan.
Otoritas SAR mendirikan pusat komando di Pelabuhan Banjarmasin dengan paramedis dan ambulans siaga.
Puluhan kerabat dan teman penumpang memeriksa papan tulis tempat nama-nama orang yang selamat diperbarui.
Jenah, 26 tahun, datang ke pos komando untuk mencari informasi tentang kakak laki-lakinya.
"Saya sedih dan sangat terkejut.
Sampai sekarang, saya belum menerima informasi lebih lanjut," kata Jenah, yang seperti banyak orang Indonesia hanya memiliki satu nama.
"Dia bepergian sendiri. Saya berharap dia selamat.
Saya tidak bisa menghubunginya sejak tadi malam."
Kecelakaan laut merupakan kejadian rutin di Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau yang sangat bergantung pada transportasi kapal untuk mobilitas harian dan pariwisata.
Standar keselamatan yang longgar dan cuaca yang tidak dapat diprediksi menjadi penyebab utama bencana tersebut.
Pada Senin sebelumnya, sebuah speedboat yang membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis dari kantor berita lokal dan internasional, hilang di dekat gunung berapi Anak Krakatau di Provinsi Banten.
Pencarian speedboat tersebut masih berlangsung.
Para jurnalis itu dikirim untuk meliput letusan gunung berapi yang melumpuhkan bandara utama Jakarta dan beberapa bandara lainnya.