unique visitors counter
⌂ Beranda IPTEK Arti Warna Api: Merah hingga Biru Ternyata Bukan Sekadar Suhu
IPTEK

Arti Warna Api: Merah hingga Biru Ternyata Bukan Sekadar Suhu

Ilustrasi nyala api dengan warna merah, kuning, dan biru yang menunjukkan perbedaan proses pembakaran
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Warna api ternyata menyimpan informasi menarik tentang proses pembakaran. Nyala merah, kuning, biru, hingga hijau tidak semata-mata menunjukkan tinggi rendahnya suhu.

Warna tersebut juga dipengaruhi jumlah oksigen, jenis bahan bakar, partikel yang berpijar, serta unsur kimia yang ikut terbakar.

Karena itu, api pada lilin, kayu bakar, kompor gas, hingga kembang api dapat memiliki warna berbeda.

Arti Warna Api

Nyala api merah umumnya menunjukkan bagian api dengan suhu relatif lebih rendah dibandingkan bagian yang berpijar kuning, putih, atau biru.

Warna ini berkaitan dengan radiasi termal dari material panas.

Pada pembakaran kayu atau lilin, warna merah dapat terlihat pada bagian tertentu yang temperaturnya lebih rendah. Namun, api merah tidak selalu berarti pembakaran tidak sempurna.

Warna nyala juga bergantung pada jenis bahan dan kondisi pembakaran. Api kuning atau oranye mudah ditemui pada lilin dan kayu bakar.

Warna terang tersebut umumnya muncul karena partikel karbon atau jelaga yang panas berpijar di dalam nyala api.

Pada lilin, uap bahan bakar yang terbakar dapat menghasilkan partikel karbon kecil.

Ketika partikel tersebut dipanaskan, cahayanya tampak kuning-oranye.

Warna ini juga dapat dipengaruhi unsur tertentu, sebab natrium dalam jumlah kecil saja mampu menghasilkan pancaran kuning yang sangat kuat.

Warna oranye menjadi warna standar untuk sebagian besar api sehari-hari.

Hal itu karena sebagian besar bahan bakar berbasis karbon dan terbakar pada suhu sedang dengan pencampuran oksigen yang tidak sempurna.

Nyala biru identik dengan kompor gas yang bekerja normal. Warna tersebut umumnya menunjukkan pembakaran yang lebih sempurna dan pencampuran bahan bakar dengan oksigen yang lebih baik.

Pada kondisi tersebut, gas seperti metana atau propana dapat terbakar dengan menghasilkan karbon dioksida dan uap air. Pembentukan jelaga pun jauh lebih sedikit.

📰 Update Terbaru