unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Lee Min-ho Jelang 40 Tahun Ingin Tampil Baru, Sebut Pernikahan 'Keajaiban
Hiburan

Lee Min-ho Jelang 40 Tahun Ingin Tampil Baru, Sebut Pernikahan 'Keajaiban

Aktor Lee Min-ho saat wawancara membahas film Assassin(s) dan usia 40 tahun
Lee Min-ho Jelang 40 Tahun Ingin Tampil Baru, Sebut Pernikahan 'Keajaiban
A A Ukuran Teks16px

Aktor Lee Min-ho mengaku merasakan tekanan menjelang usia 40 tahun. Ia bertekad tetap menampilkan sesuatu yang baru di setiap proyek aktingnya.

Hal itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Hankook Ilbo terkait film terbarunya, "Assassin(s)". Film tersebut disebut menjadi babak penutup dekade ketiga usianya.

"Saya merasa banyak tekanan soal digit pertama yang berubah itu," kata Lee.

"Tapi saya berusaha menjalani hidup dengan pola pikir yang membuat saya merasa lebih bebas, terlepas dari usia saya."

Lee berperan sebagai Young-il dalam "Assassin(s)". Sejak membaca naskah, ia sudah punya gambaran jelas soal apa yang harus dibawa karakternya ke dalam film.

Menurut Lee, Young-il berperan menghidupkan cerita. Sutradara bahkan menginginkan karakter itu terasa seperti ikan hidup.

Ia bereksperimen dengan banyak gerakan selama latihan dan sutradara menyukainya. Lee lalu merencanakan bagaimana Young-il bergerak di setiap adegan.

Ide soal teh ssanghwa, minuman herbal tradisional Korea, juga datang dari Lee. Itu menangkap humor licik sang karakter.

Naskah asli memberinya dialog panjang untuk menggali informasi dari karakter lain. Lee menilai adegan itu berisiko menjadi mudah ditebak.

Gagasan itu tumbuh dari pemahamannya soal tujuan Young-il dalam cerita. Ia juga bertekad menghindari cara-cara familiar dalam mengekspresikannya.

Dengan memvariasikan dialog dan gerakan tanpa mengganggu alur film, Lee membuat Young-il menjadi miliknya sendiri.

Ingin Selalu Beri Sesuatu yang Baru

Di tengah transisi usia itu, satu hal yang ingin Lee pertahankan adalah kemampuannya mengejutkan penonton.

Meski sudah lama berakting, ia tidak berniat mengandalkan emosi yang familiar atau mengulang apa yang sudah ia tampilkan.

"Saya rasa saya punya keinginan kuat untuk menawarkan sesuatu yang segar," ujarnya.

Lee merasa paling puas ketika orang berkata, "Saya belum pernah melihat sisi itu darinya," atau "Itu terasa segar."

Ia tidak ingin terus berakting hanya untuk menunjukkan emosi yang sama atau memberi kesan yang sama. Di setiap proyek, ia ingin menambahkan sesuatu yang baru.

Keinginan itu juga menariknya pada jenis drama romantis yang berbeda. Lee berharap suatu hari bisa bekerja dengan sutradara Hur Jin-ho.

Hur dikenal lewat penggambaran cinta yang matang. Lee ingin membuat cerita intens tentang gairah dan kecemburuan bersamanya.

"Saya pernah bertanya kepadanya, dan dia bilang ingin film terakhirnya adalah romansa," kata Lee.

Lee menyampaikan keinginannya membuat drama soal gairah dan kecemburuan dengan sensibilitas Hur. Menurutnya, sutradara itu sangat antusias.

Jenis romansa itu belum pernah ia coba, sehingga akan memberinya banyak hal untuk dipikirkan. Ia penasaran seperti apa film semacam itu di tangan Hur.

Bagi Lee, lokasi syuting "Assassin(s)" bukan sekadar tempat mengerjakan adegan lalu pulang. Ia datang bahkan pada hari-hari ketika tidak dijadwalkan bekerja.

Hal itu sebagian besar terinspirasi rekan mainnya, Park Hae-il. Menurut Lee, Park datang hampir setiap hari syuting, baik punya adegan maupun tidak.

"Melihat itu, bagaimana saya bisa menjauh?" kata Lee.

"Lokasinya terasa nyaman, seperti bersama keluarga."

Saat bertanya-tanya bagaimana proses syuting berjalan, ia akan datang dan menyerap suasananya.

Mengamati Park dari dekat, Lee menemukan aktor yang menggabungkan wibawa dan kepolosan.

"Pada Hae-il, saya melihat orang dewasa yang bergulat dengan pertanyaan sulit dan memikul beban berat, sekaligus anak laki-laki yang masih penasaran tentang banyak hal," kata Lee.

Dualitas itu sangat menarik baginya.

Menurut Lee, Park adalah aktor yang bisa bercerita dengan suaranya sendiri, tanpa menambah atau mengurangi apa pun, dan membuat penonton melihatnya dengan sangat jelas.

Lee juga cenderung mengikuti rasa penasarannya ke mana pun ia membawanya. Ketertarikan pada suatu perang membawanya melampaui konflik itu sendiri.

Ia menelusuri penyebab yang mendasarinya, konteks geografis, dan akhirnya perebutan dominasi ekonomi.

Lee percaya peristiwa yang tampak tidak berkaitan pada akhirnya terhubung dalam masyarakat. YouTube menjadi salah satu jendela utamanya melihat dunia.

Belakangan, menonton kreator individu menceritakan kisah pribadi mereka memicu minatnya pada bagaimana teknologi membentuk emosi manusia.

Menemukan musik yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) juga membuatnya penasaran soal cara baru berkarya.

"Saya ingin mencoba mengarang musik, tapi kerangka hukum seputar AI belum sepenuhnya mapan, jadi saya belum menekuninya secara serius," ujarnya.

Menurut Lee, teknologi sudah berkembang jauh dalam memungkinkan kita mengalami hal-hal yang sebelumnya tidak bisa. Jika sesuatu benar-benar menarik baginya suatu hari, mungkin ia akan mencobanya.

Soal aktor AI, Lee mengakui potensi teknologinya tetapi berbicara tentang kehangatan yang dibawa manusia.

Ia bisa membayangkan menghabiskan 10 menit hanya menonton tangan seseorang membuat kopi dalam vlog.

"Tapi kalau soal percakapan, saya lebih suka berbicara dengan orang," tambahnya sambil tertawa.

Pertimbangan serupa juga memengaruhi pilihan proyeknya.

Ditanya mengapa ia tampil di relatif sedikit film dibandingkan drama televisi, Lee mengatakan baru setelah berusia 30 tahun ia mulai tertarik pada sinema.

"Di usia 20-an, bahkan ketika pergi ke bioskop, saya jarang menonton film yang dibintangi orang seusia saya atau lebih muda," katanya.

Ia lebih memilih film yang membuatnya merasakan sesuatu dan di mana ia bisa menemukan maknanya sendiri.

"Meskipun saya aktor, baru setelah lewat usia 30 saya ingin membuat film," ujarnya.

Batas antara film dan televisi kini kabur, tetapi di usia 20-an orang bertanya apakah ia hanya mengejar popularitas.

"Sekarang saya rasa saya sudah mencapai usia di mana saya bisa membawa sebuah cerita dan membawa perspektif emosional serta pandangan saya tentang masyarakat ke dalamnya," kata Lee.

Itulah jenis proyek yang kini ia prioritaskan.

Pernikahan dan Perubahan Hidup

Lee enggan memprediksi seperti apa usia 40-annya. Ia percaya perubahan dalam kehidupan pribadinya akan lebih memengaruhi aktingnya daripada rencana karier apa pun.

"Jika saya mulai berkeluarga atau mengalami perubahan besar dalam hidup, saya rasa saya juga akan berubah cukup drastis," katanya.

Menurutnya, perubahan hidup itu akan membentuk kualitas yang ia bawa ke dalam karyanya, bukan perubahan yang sengaja dilakukan sebagai aktor.

Karena itu, sulit diprediksi saat ini.

Ia sama terbukanya soal pernikahan. "Saya rasa pernikahan adalah semacam keajaiban," ujarnya.

Menurut Lee, saat ini perceraian dan orang yang memilih tidak berkencan dibahas sebagai isu sosial.

Melihat hal itu, ia tidak merasa hanya dirinya yang menganggap gagasan pernikahan menakutkan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru