"Ini kayak nasehat untuk sesama orang kaya," kata yang lain.
"Imagine describing someone else's suffering as 'negativity' you've chosen to remove from your life. The tone deaf Olympics have a new frontrunner."
kata yang lain.
"Sakit hati banget ngeliat dia sarapan sehat enak senyum2 sementara org lain banyak kesusahan dan dia "ga nyaman" dengan berita org lain kesusahan.
Gila lu modi," kata yang lain.
"Aku sedang membayangkan ketika mayoritas kaum terpelajar di Indonesia menerapkan pola ini, maka mereka akan sibuk menjaga mentalnya dibandingkan memberikan upaya solutif bagi saudara2nya yang terdampak bad reality."
Menanggapi arus kritik yang tak kunjung surut, Maudy akhirnya melayangkan klarifikasi sekaligus permohonan maaf melalui komentar yang disematkan pada unggahan videonya, Minggu (13/9).
Ia menyadari ada sudut pandang krusial yang luput ia refleksikan saat pertama kali menyusun opini tersebut.
"Bisa melangkah jauh dari berita itu sendiri adalah sebuah privilese.
Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya," tulis Maudy.
"Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," tulis Maudy.
Maudy meluruskan bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk lepas tangan, bersikap acuh tak acuh, atau berpura-pura seolah situasi sedang baik-baik saja.
Sebaliknya, ia bermaksud sebagai pemantik agar seseorang tetap tangguh dan peka tanpa harus kehilangan kewarasan diri.
Maudy pun menyatakan bersedia mendengarkan seluruh masukan publik sebagai bahan pembelajaran ke depan.