Samsung Galaxy A17 LTE, di sisi lain, bermain di arena kualitas warna dan ketajaman. Panel Super AMOLED 6,7 inci dengan resolusi Full HD+ (1080 x 2340 piksel) menawarkan kontras warna hitam yang pekat dan vibransi warna khas Samsung yang memanjakan mata. Meskipun hanya berjalan di 90 Hz, kerapatan pikselnya yang mencapai 385 ppi membuat tampilan teks dan media jauh lebih tajam. Dilengkapi perlindungan Gorilla Glass Victus+, ponsel ini juga jauh lebih unggul dalam ketahanan terhadap goresan.
Pemenang: Pilih Infinix jika prioritas utama Anda adalah gaming dan kelancaran antarmuka. Pilih Samsung jika Anda hobi menonton film, mengedit foto, dan mengutamakan akurasi warna.
Dapur Pacu: Duel Chipset 6nm yang (Hampir) Kembar
Secara teknis, kedua ponsel ini menggunakan "jantung" yang sangat mirip, sebuah fakta yang menarik untuk diamati. Infinix Hot 70 mengandalkan MediaTek Helio G100 Ultimate, sementara Samsung Galaxy A17 LTE masih setia pada Helio G99.
Kedua chipset ini diproduksi dengan fabrikasi 6nm yang sangat efisien daya. Konfigurasi CPU-nya pun nyaris identik: dua inti performance Cortex-A76 (2,2 GHz) dan enam inti efficiency Cortex-A55. GPU Mali-G57 MC2 yang tertanam di dalamnya juga sama persis. Untuk penggunaan harian, multitasking, dan media sosial di tahun 2026, keduanya masih sangat mumpuni di kelas harganya, meski tentu bukan untuk gaming berat rata kanan.
Namun, perbedaan krusial terasa pada opsi memori dan penyimpanan:
- Infinix Hot 70: Lebih fleksibel dengan opsi RAM 4/6/8 GB dan penyimpanan hingga 256 GB (UFS 2.2). Keunggulan fatalnya adalah slot microSD dedicated (tidak hybrid) yang mendukung ekspansi hingga 2 TB.
- Samsung Galaxy A17 LTE: Hanya menawarkan RAM 8 GB di semua varian dengan penyimpanan 128/256 GB. Namun, slot microSD-nya bersifat hybrid (harus mengorbankan salah satu slot SIM) dan hanya mendukung hingga 1 TB.