unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Drayang Kijang Kencana: Wayang Kulit yang Menyapa Zaman Lewat Drama Musikal
Hiburan

Drayang Kijang Kencana: Wayang Kulit yang Menyapa Zaman Lewat Drama Musikal

Pertunjukan drayang Kijang Kencana memadukan wayang kulit dan drama musikal di panggung teater
Drayang Kijang Kencana: Wayang Kulit yang Menyapa Zaman Lewat Drama Musikal
A A Ukuran Teks16px

Live Music, Dansa, dan Candaan Kekinian

Drayang mengandalkan live music dengan paduan gamelan dan instrumen modern. Di momen tertentu, pukul drum membuat suasana terasa lebih dar-der-dor.

Kemasan drama musikal menuntut para pemain menyanyi dan menari. Tariannya tak sebatas gerak tari Jawa yang halus atau tari modern yang enerjik.

Salah satu yang menarik perhatian adalah gerakan dansa yang diperagakan Laksmana dan Sarpakenaka. Dialog antarpemain juga menyelipkan bahasan yang sedang tren di kalangan muda.

Sarpakenaka menyanyikan lagu My Mine Gueh milik Naykilla.

Ada pula tawa ang-ang-ang Shinta dan ringkasan cerita yang diawali dengan Pemirsa Insert, melaporkan langsung dari tempat peristiwa.

Candaan pinggir jurang yang mengkritik sikap pemerintah juga muncul. Kamu jadi wakil tapi beneran kerja lho, ujar salah satu anggota pasukan raksasa Alengka, disambut tawa penonton.

Kijang Kencana jelmaan Kalamarica mendekati Shinta untuk memuluskan rencana Rahwana. Si kijang tak sekadar mengalihkan perhatian Rama dan Laksmana, tetapi juga berkawan akrab dengan Shinta.

Di sela penampilan para pemain, pertunjukan tetap menghadirkan wayang kulit yang dimainkan dalang. Kehadirannya menjadi bagian dari cerita, bukan tontonan yang berdiri sendiri.

Sejumlah unsur wayang kulit pun dihadirkan, mulai dari Gunungan atau Kayon, adegan di keraton Ayodya, hingga banyolan kelompok raksasa yang mengingatkan pada bagian Gara-gara atau kemunculan Punakawan.

Ada pula bagian pertarungan saat Rama dan Laksmana tahu bahwa sosok kijang sebenarnya raksasa utusan Rahwana.

Sejumlah catatan muncul dari pementasan ini. Beberapa dialog kurang jelas artikulasinya, terutama saat Kalamarica mengenakan topeng khas Cakil sehingga kesulitan menyampaikan dialog.

Narator yang menyampaikan pengantar di awal pertunjukan dinilai mungkin lebih menarik jika disatukan dengan narasi dalang bersama wayang kulitnya.

Kendati demikian, drayang mampu memberikan suguhan yang bisa dinikmati dari awal sampai akhir nyaris tanpa rasa bosan.

Padahal pentas berjalan cukup panjang, dari pukul 15.00 sampai sekitar pukul 18.00, diselingi istirahat 15 menit.

📰 Update Terbaru