Industri mode dan hiburan global kembali diselimuti awan duka yang mendalam pada Senin (21/9/2026). Presley Walker Gerber, putra tertua dari supermodel legendaris Cindy Crawford dan pengusaha sukses Rande Gerber, serta kakak dari model dan aktris yang sedang naik daun, Kaia Gerber, dikabarkan meninggal dunia pada usia yang sangat muda, 27 tahun. Kabar ini dikonfirmasi pada Minggu (20/9/2026), meninggalkan duka yang tak terhingga bagi keluarga, kerabat, dan para penggemarnya di seluruh dunia.
Berdasarkan catatan resmi dari Los Angeles County Medical Examiner yang dihimpun oleh media ternama People, Presley menghembuskan napas terakhirnya di sebuah fasilitas rehabilitasi. Hingga artikel ini diturunkan, penyebab pasti kematian sang model masih berada dalam tahap investigasi. Proses autopsi masih terus berlangsung, dan pihak berwenang belum merilis keterangan resmi mengenai kronologi lengkap peristiwa tragis tersebut, meninggalkan ruang tunggu yang penuh kecemasan bagi publik.
Menghadapi momen yang sangat rapuh dan penuh kesedihan ini, perwakilan resmi keluarga Crawford-Gerber mengeluarkan pernyataan singkat namun bermakna. Mereka memohon kepada publik, penggemar, dan media untuk menghormati ruang privasi keluarga. "Keluarga memohon privasi selama waktu yang sangat sulit dan menyakitkan ini," bunyi pernyataan tersebut, menggambarkan betapa beratnya guncangan emosional yang sedang mereka hadapi sebagai sebuah unit keluarga yang selama ini dikenal sangat kompak.
Lahir di Beverly Hills, California, pada tahun 1999, Presley tumbuh di bawah sorotan lampu sorot sebagai anak kedua dan satu-satunya putra dari pasangan selebriti paling ikonik di era 90-an. Tak mengherankan, darah seni dan estetika mengalir deras dalam dirinya. Mengikuti jejak gemilang sang ibu, Presley memutuskan untuk terjun ke dunia modeling sejak usia remaja. Bakat dan fisik menonjol yang ia miliki membuatnya langsung dilirik oleh agensi ternama, IMG Models, saat ia baru berusia 15 tahun.
Karier Presley melesat pesat dan penuh janji. Pada usia 17 tahun, ia mulai mencuri perhatian di panggung mode internasional. Debutnya yang memukau di peragaan busana Moschino di Los Angeles menjadi pembuka jalan bagi langkah-langkah besarnya selanjutnya. Ia kemudian berjalan di atas runway prestisius Dolce & Gabbana di Milan dan menjadi wajah dalam beberapa kampanye global Calvin Klein. Pada masa itu, Presley dan Kaia sering disebut oleh media sebagai power siblings yang mewarisi pesona, karisma, dan etos kerja keras dari kedua orang tua mereka.
Namun, di balik gemerlapnya lampu runway dan kesuksesan karier yang tampak sempurna di permukaan, Presley menyimpan pergulatan batin yang berat. Tekanan untuk hidup sesuai dengan ekspektasi publik yang tinggi, serta bayang-bayang kesempurnaan keluarga besar Gerber, ternyata menjadi beban psikologis yang luar biasa. Kiprahnya di industri fashion perlahan mulai dibayangi oleh perjuangan pribadinya yang sunyi melawan masalah kesehatan mental dan penyalahgunaan zat.
Titik balik yang menyedihkan terjadi pada tahun 2019, ketika Presley sempat berhadapan dengan hukum. Ia ditahan oleh pihak berwajib setelah kedapatan mengemudikan kendaraan dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol. Insiden tersebut menjadi tamparan keras bagi keluarganya, namun di sisi lain, kejadian itu juga menjadi titik awal baginya untuk secara perlahan membuka diri tentang realitas kelam yang ia hadapi, mengubah rasa malu menjadi langkah menuju kesadaran.
Alih-alih tenggelam dalam stigma negatif, Presley memilih untuk mengubah rasa sakitnya menjadi tujuan yang lebih besar dan bermakna. Dalam beberapa tahun terakhir, ia secara berani dan terbuka membagikan perjuangannya melalui media sosial, dengan harapan dapat menjangkau dan memberi kekuatan bagi mereka yang merasa sendirian dalam kegelapan. Dalam sebuah wawancara yang mendalam di podcast Studio 22, Presley dengan jujur mengakui bahwa ia pernah bergulat dengan depresi dan masalah kesehatan mental yang serius, sebuah pengakuan yang jarang dilakukan oleh figur publik sekelas dirinya.
Komitmennya terhadap advokasi kesehatan mental ini terlihat jelas melalui inisiatif "Mental Health Mondays" yang ia buat di akun Instagram pribadinya. Pada salah satu unggahannya di tahun 2024, Presley dengan hangat bercerita tentang pengalamannya bergabung dengan kelompok pemulihan (support group). Ia menekankan betapa pentingnya menemukan kesamaan dan solidaritas dengan orang-orang yang menghadapi persoalan serupa, menciptakan ruang aman bagi dialog yang selama ini sering kali dianggap tabu di kalangan selebritas.
Semangat untuk bangkit kembali semakin terlihat pada Juli 2025. Presley membagikan sebuah video inspiratif yang mendokumentasikan upayanya membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat dan seimbang. Ia mengenang masa kecilnya yang sangat aktif secara fisik, termasuk hobi surfing, polo air, dan renang. "Saya butuh waktu 10 tahun untuk menyadari bahwa saya harus kembali melakukan aktivitas fisik," ungkapnya dalam video tersebut. Pengakuan ini menjadi pengingat yang menyentuh tentang betapa sulitnya proses penyembuhan, namun juga betapa besarnya tekad seseorang untuk kembali menemukan cahaya.
Sayangnya, jalan menuju pemulihan tidak selalu berjalan mulus dan linear. Menjelang akhir tahun lalu, Presley sempat berbicara dengan sangat blak-blakan mengenai kondisi mentalnya yang memburuk dan pengobatan intensif yang ia jalani untuk mengatasi serangan panik yang kerap melanda. Unggahan yang penuh kerentanan tersebut kemudian dihapus dari Instagram-nya, meninggalkan tanda tanya besar dan kekhawatiran mendalam bagi para pengikutnya yang peduli.
Dampak dari perjuangan Presley juga terasa sangat mendalam bagi anggota keluarganya yang lain, terutama sang adik, Kaia Gerber. Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Vogue untuk edisi September 2026, tak lama sebelum kabar duka ini pecah, Kaia secara halus namun jujur membahas bagaimana situasi kakaknya memengaruhi dinamika keluarga. Kaia mengungkapkan bahwa ia cenderung mengesampingkan kebutuhannya sendiri, secara tidak sadar memposisikan dirinya sebagai anak yang "mudah" dan tidak merepotkan, semata-mata untuk meringankan beban emosional yang sudah berat ditanggung oleh orang tua mereka.
Kepergian Presley Gerber di usia yang sangat muda adalah pengingat yang menyayat hati tentang kompleksitas kesehatan mental. Ini adalah bukti bahwa tekanan psikologis tidak memandang status sosial, ketenaran, kekayaan, atau cinta keluarga yang melimpah. Warisan Presley bukan hanya tentang pose-pose sempurna di atas runway atau wajah tampannya di majalah mode, tetapi juga tentang keberaniannya dalam menyuarakan kerapuhan manusia dan mendestigmatisasi perjuangan kesehatan mental.
Kisah Presley seharusnya menjadi panggilan bagi kita semua untuk lebih peka, empatik, dan proaktif dalam mendukung kesehatan mental, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang terdekat. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang bergulat dengan masalah kesehatan mental, ingatlah bahwa Anda tidak sendirian, dan selalu ada bantuan serta harapan yang tersedia. Mari kita jadikan kisah Presley sebagai momentum untuk lebih peduli dan saling menopang.