Hari Jumat, yang dalam tradisi Islam diagungkan sebagai Sayyidul Ayyam atau penghulunya hari, senantiasa membawa aura keberkahan yang istimewa. Bagi umat Muslim, momen ini bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan kesempatan emas untuk merefleksikan diri, mempererat ukhuwah, dan menyerap nasihat-nasihat yang mampu menerangi jiwa.
Khusus untuk pelaksanaan Salat Jumat yang akan jatuh pada lusa, tepatnya Jumat, 25 September 2026, tema yang diangkat sangatlah relevan dengan kondisi kekinian: "Meningkatkan Teladan Moralitas yang Baik".
Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap kali mengaburkan batas antara nilai luhur dan pragmatisme duniawi, naskah khutbah ini hadir sebagai pengingat yang menohok sekaligus menyejukkan. Sebuah seruan untuk kembali merajut hubungan harmonis antara keimanan (aqidah) dan perilaku nyata (akhlakul karimah) dalam keseharian.
Urgensi Akhlakul Karimah di Era yang Penuh Pergeseran Nilai
Islam, sejak awal kehadirannya, menempatkan akhlak pada kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri menegaskan misi utama kerasulannya dalam sebuah hadis riwayat Ahmad yang sangat masyhur:
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Pernyataan ini bukan sekadar slogan religius, melainkan fondasi peradaban. Di era modern yang penuh dengan pergeseran nilai, di mana kejujuran kerap dikalahkan oleh kepentingan sesaat, menghidupkan kembali teladan moralitas islami merupakan sebuah urgensi yang tidak bisa ditawar. Ini adalah benteng terakhir untuk menjaga martabat umat dan bangsa dari keterpurukan moral.
Kunci utama dari peningkatan moralitas ini bukanlah teori yang rumit, melainkan integrasi yang utuh antara iman di dalam hati dan perilaku nyata sehari-hari. Iman tanpa akhlak bagaikan pohon tanpa buah; ia mungkin tampak hijau, namun tidak memberikan manfaat yang substantif bagi lingkungannya.
Momentum Maulid Nabi: Melawan "Amnesia" Kolektif Bangsa
Berbicara tentang teladan, kita tidak bisa melepaskan diri dari sosok sentralnya, yakni Nabi Muhammad SAW. Tepat pada 12 Rabi'ul Awwal, umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, memperingati hari kelahiran beliau.
Bagi masyarakat Indonesia, tradisi Maulid telah membumi dan menyatu dalam benak kolektif. Ungkapan cinta kepada Rasulullah ini diluapkan melalui ekspresi budaya yang kaya dan beragam. Di Yogyakarta dan Surakarta, kita mengenal gemuruh tradisi Sekaten yang sarat makna filosofis. Di Banjar, Kalimantan Selatan, terdapat tradisi Baayun Maulid yang menyentuh hati, di mana bayi-bayi diayun dengan penuh doa agar tumbuh menjadi pribadi yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Namun, peringatan Maulid haruslah lebih dari sekadar seremonial atau formalitas belaka. Momentum ini adalah obat ampuh untuk melawan penyakit "amnesia" atau lupa yang tengah mewabah di berbagai lapisan masyarakat.
Seorang pemimpin mungkin lupa bagaimana cara memimpin dengan amanah. Wakil rakyat bisa saja lupa pada janji-janji kampanye yang pernah diucapkannya. Para pejabat mungkin lupa bahwa uang yang mereka kelola adalah uang rakyat, bukan harta pribadi untuk diperkaya. Bahkan, sebagai individu Muslim, kita pun bisa lupa bagaimana seharusnya berakhlak mulia dalam interaksi sehari-hari.
Maulid Nabi hadir sebagai pengingat keras untuk mengembalikan kompas moral kita ke arah yang benar, meneladani sosok yang bahkan oleh non-Muslim pun diakui keagungan budi pekertinya.
Rasulullah: Mutiara Cahaya yang Tak Pernah Redup
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Ada lautan hikmah yang dapat kita timba dari kehidupan Rasulullah SAW. Jika Al-Qur'an diibaratkan sebagai mutiara yang memantulkan beraneka ragam warna cahaya kebenaran, maka Nabi Muhammad SAW adalah cermin yang memantulkan cahaya tersebut dalam bentuk perilaku manusia yang paling sempurna.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah."
Keelokan perangai Nabi bukan hanya isapan jempol belaka. Sejak masa belia, beliau telah dijuluki Al-Amin (yang dapat dipercaya) oleh masyarakat Mekkah, sebuah gelar yang disematkan bahkan oleh mereka yang kelak menjadi musuh Islam. Kejujurannya tersohor ke seantero dunia, menjadi standar emas integritas yang sulit ditandingi.
Imam al-Bushiri, dalam gubahan syair Qasidah al-Burdah-nya yang legendaris, menggambarkan keagungan akhlak Rasulullah dengan begitu puitis dan mendalam:
"Alangkah agungnya Rasul yang selalu dihiasi oleh budi pekerti yang sangat mulia itu. Kepribadiannya selalu diselimuti kebaikan. Wajahnya selalu dihiasi oleh senyum keramahan yang menawan. Dia lemah lembut ibarat bunga, mengundang pesona ibarat bulan purnama, luas kedermawanannya ibarat samudera, dan sangat pasti cita-citanya ibarat perjalanan masa."
Hawa Nafsu: Akar Kemungkaran dan Tantangan Terbesar
Hadirin yang berbahagia,
Berbicara mengenai moral atau akhlak pada hari ini kerap kali membawa perasaan campur aduk. Bagaimana tidak, hampir setiap hari media cetak maupun elektronik dibanjiri oleh kabar kemungkaran sosial yang terjadi di negeri ini. Kasus korupsi, penipuan, ketidakadilan, dan pelanggaran kepercayaan publik seolah menjadi berita harian yang memabukkan.
Bukan berarti negeri ini penuh dengan penjahat. Namun, suara kejahatan seringkali terdengar lebih lantang daripada kebaikan. Menengok kembali kepribadian Nabi SAW adalah solusi nyata untuk keluar dari jeratan masalah ini.
Rasulullah telah mencontohkan kepada kita bagaimana mengatur negara yang baik dan masyarakat yang bermoral. Dalam menjalankan kekuasaan, beliau selalu menekankan aspek kebaikan, kejujuran, keshalehan, dan keadilan bagi semua kalangan tanpa memandang warna kulit, keyakinan, maupun ras.
Di atas segalanya, Rasulullah SAW selalu mewanti-wanti agar umatnya tidak menuruti hawa nafsunya. Hawa nafsu yang tidak terkendali adalah sumber utama kemungkaran dan kemerosotan akhlak. Seseorang akan mudah terjerumus untuk korupsi, menipu, dan melakukan kemungkaran sosial lainnya jika ia menjadi budak dari nafsu rakusnya sendiri.
Bahkan, Rasulullah SAW mengancam status keimanan umatnya yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh 'Amr bin al-'Ash, Nabi bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
Artinya: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa." (HR. al-Baihaqi)
Teks Lengkap Naskah Khutbah Jumat 25 September 2026
Berikut adalah naskah lengkap yang dapat digunakan oleh para khatib di seluruh masjid dan musala, disampaikan dengan penuh penghayatan dan kekhidmatan.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ . فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Ma'asyiral muslimin hafidzakumullah,
Marilah kita bersama-sama berdo'a kepada Allah SWT agar kita senantiasa berada di bawah naungan rahmat-Nya. Marilah kita meningkatkan takwa kita kepada-Nya, sebab takwa merupakan jembatan emas bagi kita untuk menggapai rida dan kemuliaan di sisi-Nya, baik di dunia yang fana maupun di akhirat yang kekal.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 14:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(Lanjutan khutbah pertama mencakup penjelasan tentang misi penyempurnaan akhlak, sebagaimana telah diuraikan dalam narasi di atas, ditutup dengan doa pembuka khutbah kedua).
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ الله وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ.
قَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
Penutup: Dari Mimbar ke Dalam Hati
Demikianlah naskah khutbah Jumat edisi 25 September 2026 ini disusun. Semoga peringatan Maulid Nabi dan nasihat yang disampaikan di atas mimbar-mimbar Jumat nanti tidak berhenti di telinga, melainkan meresap hingga ke dasar hati.
Peringatan Maulid haruslah menjadi sarana bagi kita untuk menambah wawasan tentang kehidupan Nabi SAW, kemudian mengamalkan dan mengkontekstualisasikan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, teladan moralitas yang baik bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang apa yang kita lakukan.