unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Cerita Buku Pelajaran Mandarin Digarap Jadi Drama Pendek, Tembus 130 Juta Penayangan
Hiburan

Cerita Buku Pelajaran Mandarin Digarap Jadi Drama Pendek, Tembus 130 Juta Penayangan

Ilustrasi produksi drama pendek adaptasi cerita buku pelajaran Mandarin di China
Cerita Buku Pelajaran Mandarin Digarap Jadi Drama Pendek, Tembus 130 Juta Penayangan
A A Ukuran Teks16px

Sejumlah kreator di China menggarap kisah-kisah legendaris dari buku pelajaran bahasa Mandarin jenjang sekolah dasar dan menengah menjadi serial drama pendek berformat video.

Inisiatif yang dipelopori tim kreator akun Haojiahuo itu menarik perhatian luas masyarakat dan menembus lebih dari 130 juta penayangan.

Beberapa judul yang diadaptasi antara lain Kong Yiji, A Letter to My Wife, Monument, serta serial kolosal 1937 Nanjing.

Karya-karya tersebut dinilai menghidupkan kembali potongan sejarah dan karya sastra yang selama ini hanya dibaca siswa di ruang kelas.

Dari Empat Orang dan Pinjaman Lampu

Perjalanan tim Haojiahuo tidak dimulai dari produksi besar. Pada 2024, saat menggarap adaptasi Kong Yiji, tim hanya beranggotakan empat orang.

Mereka harus meminjam satu perangkat pencahayaan dan mengandalkan warga desa lokal sebagai pemeran figuran.

Video perdana itu menuai gelombang kritik terkait akting dan sinematografi. Anggaran awal sebesar 20 ribu yuan pun ludes.

Kondisi tersebut sempat membawa tim ke ambang keputusan untuk membubarkan diri.

Titik balik terjadi ketika seorang guru bahasa Mandarin mengabarkan bahwa salah satu muridnya yang dikenal malas belajar mendadak menangis usai menyaksikan adaptasi kisah Monument.

Kisah itu mengangkat perjuangan Barisan Merah dalam peristiwa Long March.

Perwakilan tim Haojiahuo, Zhang, menyadari bahwa mereka tidak sekadar membuat video dari cerita buku pelajaran.

Menurut Zhang, mereka sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih bermakna.

Sejak saat itu, tim mulai mendalami teknik sinematografi, seni peran, serta riset sumber sejarah secara mendalam.

Biaya Produksi dan Pilihan Tetap Pakai Pemeran Manusia

Salah satu proyek terbesar mereka, 1937 Nanjing, menghabiskan masa persiapan hampir satu tahun.

Naskahnya direvisi lebih dari 30 kali dengan biaya produksi mencapai 1 juta yuan atau sekitar Rp2,6 miliar.

Tim bahkan menggali dan merancang set darurat di ruang bawah tanah demi mereka ulang atmosfer peperangan secara realistis.

Dalam mengadaptasi A Letter to My Wife, yang menceritakan surat perpisahan tokoh revolusioner Lin Juemin kepada istrinya pada 1911, mereka tidak hanya menyajikannya sebagai surat cinta.

Mereka menambahkan latar belakang gejolak Politik Pemberontakan Guangzhou hingga adegan interogasi yang tak tertulis di buku teks.

Langkah itu diambil untuk memberikan pemahaman utuh kepada generasi muda.

Namun, mempertahankan kualitas produksi tinggi bukan hal mudah. Biaya produksi rata-rata mencapai 100 ribu yuan per episode.

Tekanan finansial sempat memaksa tim menyetop saluran mereka selama dua bulan pada akhir 2025.

Mereka bahkan tergoda beralih membuat drama modern yang lebih murah dan cepat menghasilkan uang.

Niat itu batal setelah gelombang pesan dari anak-anak, guru, dan orang tua terus mengalir menanyakan kapan mereka kembali berkarya.

Setelah kembali aktif di awal tahun ini, serial 1937 Nanjing langsung disukai lebih dari satu juta pengguna.

Serial itu bahkan diadopsi sejumlah guru sebagai bahan ajar di kelas.

Di tengah maraknya penggunaan teknologi AI, tim Haojiahuo memilih bertahan dengan pemeran manusia dan lokasi syuting nyata demi menjaga keutuhan emosi.

Saat ini, dengan anggota yang telah berkembang menjadi sembilan orang, tim tengah bersiap mengadaptasi kisah-kisah bersejarah lainnya, seperti Bethune hingga The Lily.

Pakar kebudayaan asal Beijing, Wang Deyan, menilai daya tarik utama adaptasi drama pendek ini terletak pada kekuatan narasi aslinya yang sudah memiliki karakter dan emosi kuat di dalam buku teks.

Menurut Wang, membawa cerita-cerita ini ke layar memberikan pintu masuk lain bagi audiens muda.

Tokoh dan latar yang dulunya hanya dibayangkan lewat bacaan menjadi lebih konkret dan mudah diakses.

Ia mengingatkan bahwa inovasi media baru hendaknya tidak mengorbankan karakter dasar, konteks sejarah, maupun nilai inti cerita hanya demi mengejar jumlah penayangan.

Bagi Zhang, menyampaikan cerita sejarah berarti tentang kontak mata, hembusan napas, dan detak jantung yang saling terhubung.

Audiens tidak harus mengingat nama tim mereka, selama mereka mengingat bagian dari sejarah itu.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru