Keanekaragaman bentuk, ukuran, ketebalan, dan warna daun pada pohon terbentuk secara alami. Faktor iklim di lokasi tumbuh menjadi salah satu pemicu utama perbedaan fisik tersebut.
Perbedaan tampilan daun bahkan terjadi pada pohon dari spesies yang sama ketika tumbuh di wilayah beriklim berbeda.
Spesies pohon maple di Jepang memiliki daun menjari dengan lekukan dalam, sementara di Kanada daunnya terbagi menjadi lima lobus lebar berujung runcing.
Paleobiolog sekaligus profesor madya di Baylor University, Dan Peppe, menjelaskan bahwa struktur daun dipengaruhi oleh riwayat evolusi serta kondisi lingkungan sekitar.
Tumbuhan memiliki sifat fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan aneka kondisi iklim.
"Yang kita lihat adalah beberapa tanaman memiliki sifat seperti plastik. Mereka mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim," kata Dan Peppe.
Fungsi utama daun berpusat pada fotosintesis, yaitu proses pengolahan makanan menggunakan cahaya untuk mengubah karbon dioksida menjadi gula dan oksigen.
Seluruh karakter fisik, mulai dari kehalusan permukaan, struktur urat, hingga jumlah segmen, menunjang proses fotosintesis tersebut.
Struktur fisik daun berfungsi sebagai bentuk optimasi untuk menyerap sinar matahari, menyalurkan air, mengontrol pelepasan panas, serta menghalau gangguan hama.
Adaptasi Daun di Berbagai Iklim
Kepala peneliti di Hawkesbury Institute for the Environment Australia, Ian Wright, menyampaikan pandangan mengenai penyebab variasi daun.
Daun lebar di hutan hujan tropis berguna menangkap cahaya matahari secara optimal sekaligus mendinginkan permukaan melalui pelepasan air.
Kondisi berbeda terlihat di wilayah hutan yang lebih dingin dan kering. Pohon pinus memiliki daun berbentuk jarum tipis yang saling terikat untuk mempertahankan suhu panas tubuhnya.
Direktur Eksekutif US Botanic Garden, Susan Pell, menilai keanekaragaman bentuk daun juga dapat berasal dari sisa-sisa genetik hasil seleksi alam.
"Tidak ada keuntungan revolusioner pada satu bentuk dibandingkan bentuk lainnya," kata Susan Pell.
Meskipun memiliki variasi bentuk yang sangat beragam, tidak ada struktur daun yang dinilai lebih unggul atau lebih buruk.
Keberadaan daun-daun ini berperan penting sebagai penopang kehidupan di Bumi.
Profesor ekologi dan biologi evolusi di Yale University, Erika Edwards, menyebutkan bahwa laju perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu serta kekeringan dapat mengancam kelangsungan hidup tanaman.
"Tetapi lajunya tidak mendekati laju perubahan iklim yang kita lihat sekarang. Saya pikir orang-orang memperkirakan akan terjadi banyak kepunahan," kata Erika Edwards.
Pohon memang memiliki kemampuan beradaptasi dengan mengubah struktur daunnya agar bertahan hidup, namun proses penyesuaian mandiri tersebut tetap memiliki batasan.
Bentuk daun pohon yang beragam sangat dipengaruhi oleh sejarah evolusi dan adaptasi lingkungan.