Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping menyetujui penggantian istilah artificial intelligence menjadi super intelligence.
Klaim itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social, seperti dilansir Detik iNET pada Minggu (27/9/2026).
Trump menyebut kesepakatan tercapai saat pertemuan dan makan malam bersama Xi Jinping serta sejumlah pimpinan perusahaan teknologi.
Ia menilai istilah kecerdasan buatan kurang tepat menggambarkan teknologi tersebut.
"Seperti hampir semua orang lainnya, dia tampaknya lebih suka menyebut apa yang selama ini diberi nama yang buruk dan tidak akurat Artificial Intelligence dengan sebutan yang jauh lebih akurat dan penting: SUPER INTELLIGENCE," kata Trump.
Trump menambahkan bahwa semua orang yang hadir pada pertemuan malam itu juga sepakat.
Xi Tidak Sebut Istilah Super Intelligence
Meski Trump mengklaim adanya kesepakatan, laporan The Hill mencatat Xi Jinping tidak secara spesifik menyebut istilah kecerdasan super saat berbicara terbuka mengenai kecerdasan buatan di Gedung Putih pada Kamis.
Xi menegaskan kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan.
Ia juga menekankan pengembangan AI harus tetap berada di bawah kendali manusia dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Super intelligence didefinisikan sebagai bentuk kecerdasan buatan yang mampu melampaui kemampuan intelektual manusia.
Konsep ini menjadi fokus pengembangan banyak perusahaan teknologi terkemuka, sekaligus memicu kekhawatiran terkait potensi risikonya terhadap manusia.
Penggunaan istilah baru ini sebelumnya telah diumumkan Trump dalam Sidang Majelis Umum PBB awal pekan ini untuk menggantikan kecerdasan buatan pada dokumen resmi Amerika Serikat.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Departemen Luar Negeri AS menginstruksikan seluruh diplomatnya untuk mengadopsi istilah super intelligence dalam setiap komunikasi diplomatik mendatang.
