unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Bor Inti Formasi Durupinar Berhenti Usai Mata Bor Patah di Lapisan Keras
News

Bor Inti Formasi Durupinar Berhenti Usai Mata Bor Patah di Lapisan Keras

Ilustrasi kegiatan pengeboran inti di Formasi Durupinar, Turki
Bor Inti Formasi Durupinar Berhenti Usai Mata Bor Patah di Lapisan Keras
A A Ukuran Teks16px

Tim peneliti program Noah's Ark Scans menghentikan pengeboran inti di Formasi Durupinar, Dogubayazit, Provinsi Agri, Turki, setelah mata bor patah pada kedalaman 18 meter.

Pengeboran itu dilakukan untuk meneliti struktur bawah tanah lokasi yang kerap dikaitkan dengan Bahtera Nabi Nuh.

Insiden tersebut terjadi ketika alat bor menghantam lapisan tanah yang sangat keras.

Lapisan Keras dan Dugaan Kayu Termineralisasi

Pengeboran yang dipimpin Prof. Dr. Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University itu menemui lapisan sangat keras pada kedalaman 4 hingga 5 meter di bawah permukaan.

Peneliti menduga lapisan tersebut berupa kayu yang membatu atau mengalami mineralisasi tinggi.

Namun, dugaan itu masih menjadi hipotesis yang perlu diuji di laboratorium independen.

Sebelum pengeboran, tim telah memindai formasi sepanjang 157 meter menggunakan teknologi Ground-Penetrating Radar (GPR), Electrical Resistivity Tomography (ERT), dan LiDAR.

Tim juga mengumpulkan hampir 1.000 sampel tanah dari 150 lokasi.

Pemindaian geofisika sebelumnya mengidentifikasi struktur linear, pola sudut siku-siku, fitur menyerupai koridor, dan kandungan material organik tiga kali lebih tinggi di bagian dalam formasi.

Noah's Ark Scans menegaskan temuan data geofisika itu bersifat sugestif, bukan konklusif.

Organisasi tersebut juga menyatakan program penelitiannya tidak mengautentikasi klaim sejarah maupun keagamaan.

Formasi Durupinar pertama kali diidentifikasi dari foto udara pada 1959 oleh Kapten Ilhan Durupinar dari Angkatan Darat Turki.

Penelitian geologi pada 1996 oleh Lorence Collins dan David Fasold menyimpulkan struktur itu merupakan formasi geologi alami akibat pelapukan mineral vulkanik serta pergerakan tanah.

Karena itu, mata bor yang pecah maupun temuan anomali bawah tanah belum memverifikasi keberadaan konstruksi kapal atau artefak buatan manusia.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru