unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Studio Korea Ambil Alih Animasi Webtoon Lokal, Produksi Rumah Sendiri
Hiburan

Studio Korea Ambil Alih Animasi Webtoon Lokal, Produksi Rumah Sendiri

Ilustrasi produksi animasi webtoon Korea di studio
Studio Korea Ambil Alih Animasi Webtoon Lokal, Produksi Rumah Sendiri
A A Ukuran Teks16px

Studio animasi Korea memperluas strategi dengan mengadaptasi webtoon lokal menjadi film layar lebar.

Produksi kini dilakukan sepenuhnya di dalam negeri, bukan lagi bergantung pada studio luar.

Sebelumnya, webtoon populer Korea sering dikerjakan di luar negeri melalui kerja sama multinasional.

Solo Leveling menjadi contohnya, dikerjakan bersama studio Jepang dan perusahaan Korea.

Model itu menggabungkan kekayaan intelektual Korea dengan infrastruktur produksi Jepang.

Namun, kini muncul gerakan yang lebih luas di industri animasi Korea.

Studio Korea mulai memproduksi animasi teater dari awal hingga akhir berdasarkan cerita webtoon lokal.

Guardians of the Video Game menjadi salah satu proyek tersebut.

Film ini diangkat dari webtoon Naver karya Gasfard dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 Oktober.

Produksi sepenuhnya ditangani studio Locus yang berbasis di Seoul.

Sebelumnya, Locus menggarap Exorcism Chronicles: The Beginning, adaptasi novel okultisme populer era 1990-an.

Film itu mendapat sambutan baik dari penonton lokal tahun lalu.

Locus masih memiliki sejumlah proyek webtoon lain, termasuk Barkhan dan Denma.

Studio itu juga menyiapkan versi animasi dari drama panggung sutradara Kim Tae-yong berjudul Kokdu.

Di sisi lain, Your Letter yang diangkat dari webtoon Cho Hyeon-ah diproduksi Studio N.

Film ini telah dijual ke 166 negara sebelum perilisan.

Your Letter mendapat pujian karena visual gambar tangan yang memukau dan cerita yang hangat.

Kisah Korea yang lembut dinilai mampu terhubung dengan penonton dunia.

Meski begitu, angka box office domestik masih menunjukkan tantangan berat bagi animasi lokal.

Leafie, A Hen into the Wild meraih sekitar 2,2 juta tiket pada 2011.

Film itu masih menjadi animasi Korea dengan performa terbaik.

Angka tersebut kecil dibandingkan lebih dari 5 juta penonton yang diraih judul Jepang seperti Suzume dan Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba — The Movie: The Infinity Castle.

Film animasi dalam negeri masih menjadi pasar niche di Korea.

Padahal, webtoon Korea telah menjangkau audiens global yang sangat besar.

Para ahli industri melihat pergeseran ini sebagai langkah membangun kapasitas domestik.

Bukan untuk bersaing langsung dengan Jepang.

Kim Yun-ji, presiden Korea Creative Content Agency, menyebut ekspansi kekayaan intelektual sebagai terobosan kunci.

Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers pada 17 September.

Menurut Kim, fokus yang terlalu lama pada konten anak-anak memperparah kesulitan industri.

Penurunan populasi dan menyusutnya pasar siaran turut mempercepat masalah tersebut.

Ia menegaskan industri harus bergerak menuju konten untuk dewasa.

Kim menekankan pentingnya membangun model pendapatan baru.

Caranya dengan menghubungkan animasi, webtoon, dan merchandise.

Bukan hanya mengandalkan dukungan pemerintah.

Tujuannya bukan menggantikan co-production internasional seperti Solo Leveling.

Melainkan memberi studio lokal opsi memproduksi film sendiri saat memiliki cerita dan kemampuan yang tepat.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru