Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengejutkan banyak pihak dengan membuka peluang negaranya kembali ke Uni Eropa. Namun Brussels menegaskan pihaknya menunggu tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan politik.
Burnham yang baru menjabat pada Juli lalu secara terang-terangan melanggar tabu bagi seorang pemimpin Inggris.
Ia menyebut opsi keanggotaan bisa berupa tetap seperti sekarang, bergabung dengan serikat pabean, pasar tunggal, atau bahkan kembali sepenuhnya.
Pernyataan itu mematahkan garis merah yang ditetapkan pendahulunya, Keir Starmer. Sebagai mantan wali kota Manchester, Burnham dikenal vokal soal hubungan erat dengan Eropa.
Sejumlah pemimpin Eropa menyambut hangat sinyal tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menyapa dengan bahasa Inggris, "Welcome back."
Macron menilai langkah Burnham sebagai kabar baik bagi Inggris dan Eropa. Namun respons resmi dari Brussels jauh lebih hati-hati.
Juru bicara Komisi Eropa Balazs Ujvari menyatakan pihaknya tetap terbuka. Ia menegaskan pemerintah Inggris harus menjelaskan sendiri bagaimana hubungan dengan Uni Eropa akan dikembangkan.
Sikap waspada Brussels bukan tanpa alasan. Dalam satu dekade terakhir, mereka telah berurusan dengan enam perdana menteri Inggris yang berbeda.
Seorang diplomat mengakui ada rasa frustrasi terhadap setiap awal baru dari London.
Pejabat Uni Eropa lain menyebut perubahan nada positif, tetapi tidak akan mengubah pendekatan hanya karena "musik latar yang bagus."
Ujian pertama dan agenda yang sama
Ujian pertama Burnham adalah mengunci pertemuan puncak dengan pemimpin Uni Eropa Ursula von der Leyen dan Antonio Costa.
Pertemuan itu diharapkan menghasilkan sejumlah hasil konkret.
Pejabat kedua pihak berharap pertemuan digelar bulan depan, meski tanggal pastinya belum ditetapkan. Pertemuan serupa sebelumnya dijadwalkan Juni untuk meresmikan "reset" Starmer, tetapi batal setelah ia tersingkir.
Agenda yang dibahas tetap sama, termasuk kesepakatan bagi anak muda untuk bekerja dan belajar di kedua wilayah.
Ada pula pengurangan pemeriksaan produk hewani dan nabati, serta keterkaitan skema perdagangan karbon.
Kendala yang dihadapi juga tak berubah.
Negara-negara Uni Eropa ingin Inggris mengizinkan pelajar Eropa belajar dengan biaya lebih murah, sementara London khawatir dengan rencana "Made in Europe" yang memprioritaskan industri sendiri.
Pejabat Uni Eropa memperingatkan Brussels tidak akan memberi konsesi tanpa "kemajuan signifikan", terutama soal skema pemuda.
Dengan suasana baru pasca-Burnham, pertemuan yang sukses bisa menjadi landasan upaya lebih ambisius.
Sebastien Maillard dari lembaga pemikir Chatham House menilai pertemuan itu dapat memulihkan kepercayaan dan memulai kembali dengan pijakan lebih baik.
Namun ia menegaskan gagasan Inggris bergabung kembali masih sepenuhnya "tidak realistis".
Maillard menyebutnya terlalu besar dan terlalu dini. Di Brussels pun muncul keraguan besar apakah Inggris bisa menerima syarat baru dari blok tersebut.
Selama puluhan tahun menjadi anggota, London menegosiasikan pengecualian dari sejumlah aturan. Inggris juga menolak bergabung dengan mata uang euro dan zona perjalanan Schengen.
Burnham sendiri tidak pernah menyembunyikan keinginannya agar Inggris kembali ke Uni Eropa. Ia sebelumnya berharap bisa melihatnya terjadi "dalam hidupnya".
Namun ia mengakui bahwa waktunya belum tentu sekarang. Pernyataan itu disampaikannya kepada BBC pekan ini.