unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Lee Byung-hun, Prisma Manusia di Antara Squid Game dan No Other Choice
Hiburan

Lee Byung-hun, Prisma Manusia di Antara Squid Game dan No Other Choice

Aktor Lee Byung-hun dalam wawancara di Samcheong-dong, Seoul
Lee Byung-hun, Prisma Manusia di Antara Squid Game dan No Other Choice
A A Ukuran Teks16px

Aktor Lee Byung-hun kembali menjadi sorotan lewat perannya dalam "No Other Choice" dan "Squid Game".

Dalam sebuah wawancara panjang di sebuah kafe di Samcheong-dong, Seoul, ia berbicara tentang perjalanan karier, kegelisahan, dan kemanusiaan.

Pertemuan itu berlangsung setelah serangkaian perjumpaan di Festival Film Internasional Venesia, Los Angeles, dan Busan.

Di layar, Lee tampil memikat, namun di luar kamera ia dikenal hangat dan rendah hati.

Gelombang Korea dan Beban Global

Lee mengaku merasakan skala dampak global budaya Korea yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia menyebut "Squid Game" sudah besar, tetapi kali ini terasa lebih besar lagi.

Banyak orang pertama kali mengenal konten Korea melalui drama seperti "Crash Landing on You".

Meski gratifying, ia mengaku kadang merasa takut dan tidak tahu bagaimana menanggapi semuanya.

Menurutnya, penonton dunia tidak hanya tertarik karena cerita Korea baru atau eksotis.

"Squid Game" menjadi fabel modern tentang kecemasan, ketidaksetaraan, dan kompetisi tanpa henti.

Dalam "No Other Choice", tokoh Man-su bekerja di industri kertas yang perlahan menghilang.

Lee membandingkannya dengan Charlie Chaplin dalam "Modern Times" yang berjuang mengikuti dunia yang semakin mekanistik.

Di adegan akhir, Man-su dihadapkan pada sistem berbasis kecerdasan buatan yang tidak bisa ia adaptasi.

Ia tampak benar-benar tersesat, tidak tahu arah atau apa yang harus dilakukan.

Lee menilai teater dan industri film saat ini berada dalam situasi serupa.

Kemanusiaan di Tengah Ketidakpastian

Adegan yang paling membekas baginya adalah wawancara kerja pertama dan terakhir.

Keduanya kontras: di dalam, Man-su diliputi ketakutan dan keputusasaan, tetapi di luar ia berusaha tampak tenang dan percaya diri.

Lee tidak menganggap Man-su istimewa, melainkan orang biasa yang perlahan meyakinkan diri bahwa ia mampu melakukan hal yang tak pernah dibayangkan.

Ia menilai empati muncul bukan dari menyaksikan hal luar biasa, tetapi saat melihat seseorang di titik terlemahnya.

Penonton melihat ketakutan dan keputusasaan, lalu mengenali perasaan itu dalam diri sendiri.

Saat pertama membaca naskah, Lee banyak tertawa, tetapi hal terpenting baginya adalah apakah ia benar-benar menikmati membacanya.

Ia dikenal sering memerankan antagonis kompleks, dan pengalaman itu mengubah pendekatannya.

Menurutnya, aktor tidak banyak mengandalkan pengalaman pribadi, melainkan memperbesar emosi yang pernah dialami.

Jika hanya bisa berakting dari hal yang dialami, ia bertanya apakah harus menjadi monster sungguhan untuk memerankan penjahat.

Putranya pernah bertanya siapa dirinya, dan Lee menjawab bahwa ia adalah pria yang keluar dari api.

Awalnya putranya mendukung penjahat, tetapi kemudian menyadari betapa jahatnya karakter itu.

Putranya pun bertanya mengapa ia melakukan itu, dan Lee bercanda apakah putranya menganggapnya penjahat profesional.

Lee tidak pernah menganggap dunia hero dan villain, Korea dan Hollywood, sebagai hal yang berbeda.

Ia hanya berusaha memainkan setiap peran sejujur mungkin.

Ia kini dianggap sebagai figur yang mewakili kebangkitan budaya Korea, bersama Bong Joon-ho dan Park Chan-wook.

Jalan yang dulu ia lalui antara Seoul dan Hollywood menjadi jembatan bagi generasi baru aktor Korea.

Meski telah banyak mencapai, Lee masih merasakan kecemasan tentang masa depan.

Ia sering bertanya berapa lama lagi ia akan menjadi aktor yang ingin dilihat orang dan tetap relevan.

Yang mendorongnya bukan sekadar sukses atau ketenaran, melainkan keinginan terus mencari penampilan lebih baik.

Ia juga terus menatap kecemasan zaman dan ketakutan yang ada dalam setiap manusia.

Saat kafe itu kosong, cahaya senja jatuh di wajahnya, dan ia tampak seperti cerminan mereka yang hidup di era tak pasti.

Pada akhirnya, sinema Korea tidak hanya menunjukkan keruntuhan dunia, tetapi bertanya bagaimana kita tetap menemukan kemanusiaan di dalamnya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru