unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Melani Budianta Rawat Suami Demensia Afasia Progresif Sejak 2024
News

Melani Budianta Rawat Suami Demensia Afasia Progresif Sejak 2024

Ilustrasi pendampingan pasangan lansia dengan demensia
Melani Budianta Rawat Suami Demensia Afasia Progresif Sejak 2024
A A Ukuran Teks16px

Prof. Melani Budianta, Ph. D.

, menghadapi kenyataan yang jarang dibayangkan pasangan yang menua bersama. Suaminya, jurnalis dan penyair Eka Budianta, didiagnosis mengalami demensia dengan jenis afasia progresif pada awal tahun 2024.

Diagnosis itu datang tiba-tiba tanpa gejala fisik yang mencolok. Padahal, Eka sebelumnya sangat aktif menulis dan berinteraksi.

Melani mengaku kesibukan membuat mereka tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan penurunan memori atau fungsi kognitif dalam waktu dekat.

"Kami berdua sangat sibuk.

Jadi tidak sempat memikirkan yang lain ya bahwa kami akan mengalami demensia kan tidak sempat, tidak ada waktu.

Setiap hari selalu ada tugas," kata Melani Budianta, pegiat budaya dan dosen.

Adaptasi dan Rutinitas Baru

Kecurigaan awal justru muncul dari lingkungan sekitar. Suster di klinik tempat mereka rutin memeriksakan diri menyadari perubahan sikap Eka yang menjadi jauh lebih pendiam.

Setelah serangkaian tes di klinik memori dan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) bersama putrinya, Wakil Rektor UKRIDA dr. Theresia Citraningtyas, MWH, Ph.

D. , Sp.

K. J, Eka terkonfirmasi mengalami penyusutan otak atau atrofi di area bahasa.

Melani sempat mengalami pergolakan batin mengenai langkah selanjutnya, terutama terkait interaksi sosial sang suami. Eka memiliki banyak teman dan tergabung dalam berbagai komunitas penulis.

"Mula-mula saya berpikir apakah saya akan memberi tahu orang bahwa dia kena demensia. Kalau saya beritahu jangan-jangan dia tidak dilibatkan lagi dalam kegiatan," ungkap Melani.

Pada akhirnya, ia memilih terbuka kepada lingkaran pergaulannya. Keputusan ini berbuah manis karena lingkungan pertemanannya merespons positif dan memberikan dukungan nyata agar Eka tetap aktif.

"Ternyata kita tidak perlu untuk menyembunyikan, tetapi mengatakan apa adanya dan apa yang masih dia bisa lakukan malah justru orang mendorong," ujar Melani.

Setelah fase penerimaan, tantangan berikutnya adalah merawat kebugaran fisik dan kognisi agar kemampuannya tidak menurun drastis. Pasangan ini menciptakan rutinitas baru yang terstruktur.

Rutinitas itu melibatkan aktivitas fisik, pola makan sehat, dan interaksi intens sejak pagi hari.

"Kita buat ritual-ritual baru, kegiatan baru. Misalnya pagi kita makan bersama, saya membuatkan makanan sehat yaitu kefir dengan buah," ucap Melani.

Perubahan pola makan diterapkan secara ketat. Mereka menghindari gorengan, memperbanyak sayuran kukus seperti labu dan wortel, serta rutin mengonsumsi telur rebus.

Eka pun memiliki tugas khusus di dapur, yakni memasak variasi karbohidrat kompleks seperti beras hitam atau beras jagung.

Selain asupan nutrisi, olahraga selama kurang lebih satu setengah jam setiap hari menjadi kewajiban. Aktivitas fisik ini mencakup pemanasan, latihan beban, senam keseimbangan, hingga senam wajah dan lidah.

Melani juga melibatkan dua ekor anjing peliharaan mereka sebagai bagian dari interaksi harian di rumah.

"Relasi dengan hewan peliharaan itu ternyata sangat bermakna. Jadi dia masih punya keaktifan untuk memeliharanya dan ada afeksi," papar Melani.

Dalam aspek kognitif, kelancaran berbahasa Eka dipertajam secara konsisten.

"Ketika koran datang, dia membaca keras, saya mendengarkan, lalu kita bicara. Jadi kita upayakan selalu ada interaksi yang berdua dan bisa dilaksanakan," tutur Melani.

Meski mendampingi orang dengan demensia membutuhkan penyesuaian besar, terutama saat Melani harus berdinas ke luar kota, ada banyak kesenangan kecil yang bisa dirayakan.

Ia menemukan bahwa mengajak suaminya berjalan-jalan ke lokasi yang sarat kenangan memberikan dampak pemulihan emosional yang luar biasa.

"Ternyata salah satu kegiatan yang sangat baik untuk lansia adalah menyusuri jejak masa lalu. Itu sangat-sangat berharga," sebut Melani.

Ketika mengunjungi kota kelahirannya, ingatan Eka mengenai detail lingkungan masa kecilnya kembali bermunculan. Ia bisa mengenali jalanan yang sudah berubah, letak sekolah, hingga teman sepermainan di masa lampau.

Perjalanan menyusuri memori ini secara efektif menghidupkan kembali percakapan panjang di antara mereka berdua.

Melani memandang fase kehidupan ini bukan sebagai halangan, melainkan kesempatan untuk saling mengisi peran dengan ritme yang lebih lambat.

Keterbatasan akibat demensia justru menciptakan ruang tenang untuk menikmati kebersamaan yang dulu sulit didapatkan karena padatnya rutinitas pekerjaan masing-masing.

"Saya mendengarkan dia membaca kembali puisi-puisinya atau cerpen orang lain. Kami ternyata bisa melakukan itu bersama dan kami menikmati momen-momen itu," imbuh Melani.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru