Menjalani rutinitas kerja yang padat setiap hari sering dianggap cukup untuk menjaga ketajaman otak. Padahal, kesibukan tersebut tidak menjamin seseorang terbebas dari ancaman demensia di masa depan.
Pandangan keliru soal stimulasi mental ini dijelaskan Prof. dr. Nagaendran Kandiah, MBBS, FRCP, FAMS, dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Prof. Nagaendran, otak memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap pola kegiatan harian. Ketika jenis pekerjaan yang sama diulang terus-menerus, tugas yang awalnya rumit berubah menjadi mekanisme otomatis.
"Jadi tidak ada lagi bagian tambahan dari otak yang direkrut untuk memproses pekerjaan baru ini. Bagian otak yang sama melakukan hal yang sama," kata Prof. Nagaendran.
Kondisi autopilot itu membuat stimulasi kognitif stagnan. Masyarakat pun disarankan melakukan aktivitas di luar pekerjaan utama agar bagian saraf yang jarang terpakai kembali aktif.
Kegiatan pendukung bisa berupa eksplorasi hobi baru atau belajar memainkan alat musik. Syarat utamanya, kegiatan tersebut menyenangkan dan tidak menimbulkan beban pikiran.
"Itu harus sesuatu yang berbeda dari pekerjaan sehari-hari Anda. Kedua, itu harus sesuatu yang menarik bagi Anda.
Itu tidak boleh sesuatu yang sulit, sesuatu yang membosankan, dan tidak boleh sesuatu yang membuat frustasi," ujar Prof. Nagaendran.
Latihan Fokus 30 Menit dan Interaksi Sosial Nyata
Latihan otak tidak perlu berjam-jam hingga mengorbankan waktu istirahat. Mengalokasikan sekitar 30 menit setiap hari secara konsisten dinilai lebih efektif menjaga kelenturan saraf.
"Mengapa 30 menit adalah angka ajaib? Saya pikir kita juga ingin melatih otak untuk lebih penuh perhatian," sebut Prof. Nagaendran.
"Rentang perhatian itu penting. Jadi, 20-30 menit adalah jendela yang baik untuk memastikan Anda melatih otak agar fokus," tuturnya.
Selain melatih hobi, menjaga keterhubungan sosial secara langsung menjadi pilar penting mencegah penurunan fungsi kognitif.
Sejumlah riset membuktikan kurangnya sosialisasi di dunia nyata merupakan salah satu pemicu utama demensia.
Tantangan terbesar kelompok usia 30-an dan 40-an saat ini adalah tingginya ketergantungan pada media digital. Kebiasaan berinteraksi virtual membuat banyak orang memilih terisolasi di rumah.
"Salah satu kekhawatiran terbesar adalah apakah generasi baru akan kekurangan keterhubungan sosial, interaksi sosial.
Jadi itulah yang seharusnya mulai difokuskan oleh orang yang lebih muda, interaksi sosial secara tatap muka," kata Prof. Nagaendran.
Secara medis, percakapan langsung tatap muka merupakan sarana stimulasi saraf yang amat kuat. Berdasarkan pengujian resting-state functional MRI, interaksi dunia nyata memicu perubahan biologis yang melindungi otak.
"Pada dasarnya, functional MRI memberi tahu kita bagian otak mana yang terhubung satu sama lain. Dan ada tiga jaringan utama di otak, salah satunya disebut salience network.
Jaringan ini mengontrol suasana hati dan emosi Anda," papar Prof. Nagaendran.
Percakapan langsung atau panggilan video memunculkan respons emosional nyata yang tidak terduga, seperti antusiasme hingga perbedaan pendapat. Dinamika emosi itu memaksa otak memproses informasi secara aktif.
"Media digital merespons Anda seperti yang Anda inginkan, sedangkan saat Anda berbicara dengan seorang teman, dia mungkin senang atau tidak senang dengan Anda, tetapi itu adalah emosi yang nyata.
Dan itu menstimulasi salience network Anda," jelas Prof. Nagaendran.
