unique visitors counter
⌂ Beranda › News › LPS: Simpanan di Atas Rp5 Miliar Pacu Bisnis Wealth Management
News

LPS: Simpanan di Atas Rp5 Miliar Pacu Bisnis Wealth Management

Ilustrasi pertumbuhan simpanan jumbo dan bisnis wealth management perbankan
LPS: Simpanan di Atas Rp5 Miliar Pacu Bisnis Wealth Management
A A Ukuran Teks16px

Pertumbuhan dana nasabah kelas atas menjadi pendorong utama ekspansi bisnis pengelolaan kekayaan atau wealth management perbankan nasional.

Tren ini seiring dengan melonjaknya permintaan nasabah terhadap produk investasi dan layanan keuangan terpadu.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat total simpanan masyarakat di perbankan menembus Rp 10.348,86 triliun per Juli 2026.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan 0,4% secara bulanan serta tumbuh 10,9% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Bila dirinci berdasarkan nominal, kelompok simpanan bernilai di atas Rp 5 miliar mencatatkan pertumbuhan paling pesat.

Kategori ini melonjak 17,3% secara tahunan (yoy) hingga mencapai Rp 5.999,21 triliun.

Kenaikan simpanan jumbo tersebut dimanfaatkan oleh PT Bank DBS Indonesia untuk memperbesar porsi bisnis layanan nasabah kaya.

Pertumbuhan jumlah nasabah high net worth individuals (HNWI) berbanding lurus dengan tingginya kebutuhan akan wawasan pasar dan instrumen investasi.

Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry menegaskan potensi sektor ini.

"Jumlah customer kita kecenderungan trennya meningkat. Potensi wealth management kita akan semakin besar lagi ke depan," ujarnya di Jakarta, Rabu (29/9/2026).

Kinerja DBS Treasures Private Client sepanjang semester I 2026 mencetak peningkatan total Asset Under Management (AUM) sebesar 13% yoy.

Rata-rata dana kelolaan per nasabah naik 15%, sementara total pendapatan melejit 34%.

Lonjakan pendapatan DBS terutama disokong oleh Investment Fee Income yang melesat 65% yoy.

Selain itu, laba bersih setelah pajak atau Net Profit After Tax (NPAT) juga tumbuh sebesar 24%.

Dalam hal pilihan aset, nasabah DBS mulai mengalihkan fokus investasi ke instrumen berisiko lebih rendah seperti obligasi.

Strategi ini diambil untuk menjaga arus kas sekaligus menekan tingkat volatilitas portofolio.

"Customer kita juga banyak yang berinvestasi di obligasi. Mereka sudah mulai shifting ke aset yang mungkin risiko exposure-nya lebih rendah.

Kalau memang ingin dapat cash flow, bisa shifting dari obligasi yang dulu jangka panjang ke obligasi tenor pendek," kata Boy.

Selain surat utang, DBS menyediakan ragam pilihan instrumen pendukung seperti reksa dana pendapatan tetap, transaksi valuta asing, hingga structured product.

Pertumbuhan serupa dirasakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan bahwa AUM reksa dana dan obligasi BCA tumbuh lebih dari 15% yoy per Juni 2026.

Lompatan dana kelolaan BCA paling menonjol terjadi pada produk reksa dana yang tumbuh di atas 50% yoy.

Produk reksa dana pasar uang serta reksa dana pendapatan tetap menjadi penopang utama lonjakan tersebut.

"Peningkatan AUM tersebut memberikan kontribusi terhadap pendapatan fee based income BCA," kata Hera kepada Keuangan, Rabu (29/9/2026).

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru