PT Allo Bank Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan saldo tabungan sebesar 26,35 persen secara tahunan hingga Agustus 2026.
Total saldo tabungan perseroan mencapai sekitar Rp1,01 triliun pada periode tersebut.
Pertumbuhan ini terjadi di tengah dinamika daya beli masyarakat yang masih menjadi perhatian industri.
Selain tabungan, dana transaksional Allo Bank juga mencatatkan lonjakan signifikan.
Dana giro tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar Rp479 miliar pada periode yang sama.
Membaca Perilaku Nasabah di Tengah Tekanan Simpanan
Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menilai perkembangan simpanan masyarakat perlu dianalisis lebih terperinci.
Menurutnya, perubahan total nominal dana tidak bisa menjadi satu-satunya patokan.
Ia menyebut secara industri terdapat tekanan pada nominal simpanan dengan saldo di bawah Rp100 juta pada Juli 2026.
Namun, data LPS menunjukkan jumlah rekening pada segmen tersebut justru terus meningkat.
Perubahan perilaku nasabah dinilai beragam, dengan sebagian masyarakat lebih selektif mengelola likuiditas.
Di sisi lain, penggunaan rekening untuk transaksi harian terus berkembang pesat.
Destya menyatakan perkembangan dana transaksional menjadi sinyal positif bagi Allo Bank.
Semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar peluang terbentuknya dana operasional yang lebih sticky dan sustainable.
Faktor eksternal seperti inflasi, ketersediaan lapangan kerja, dan daya beli diproyeksikan masih memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah.
Data Otoritas Jasa Keuangan per Juni 2026 mencatat simpanan industri di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu membaik dari posisi Maret 2026 yang sebesar 1,84 persen.
Sementara simpanan rumah tangga Rp5 juta hingga Rp10 juta tumbuh 10,01 persen.
Destya menyebut OJK menilai perkembangan tersebut sebagai indikasi basis penghimpunan dana ritel masih cukup terjaga.
Perseroan tidak mengasumsikan adanya lonjakan simpanan secara mendadak.
Allo Bank berfokus pada strategi peningkatan nasabah aktif, frekuensi transaksi, serta kebiasaan menabung secara bertahap.
Dengan pendekatan itu, perseroan berharap dapat membangun funding yang lebih granular dan berkelanjutan.
Strategi penguatan ekosistem dilakukan melalui fasilitas pembayaran QRIS, transfer, dan pembayaran tagihan.
Langkah itu untuk mendorong nasabah menjadikan Allo Bank sebagai rekening utama.
Di sisi produk simpanan, Allo Bank mengoptimalkan Allo Grow serta Allo Deposito yang dapat diakses mulai dari Rp1 juta.
Penetapan harga dilakukan secara prudent sesuai kondisi pasar.
Destya menegaskan tujuan perseroan bukan hanya meningkatkan nominal tabungan dalam jangka pendek.
Allo Bank ingin membangun customer engagement, retention, dan lifetime value dalam jangka panjang.
Pemanfaatan data dan customer insights diharapkan membentuk siklus berkelanjutan dari akuisisi hingga loyalitas nasabah.
Langkah tersebut guna memperkuat struktur CASA perseroan.