Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat koreksi 24,46 persen secara year-to-date (ytd).
Penurunan ini terjadi di tengah tekanan arus modal keluar investor asing dan kenaikan premi risiko pasar.
Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), harga BBCA ditutup menguat 1,67 persen ke level Rp 6.100 per saham.
Namun, dalam sepekan terakhir, harga masih turun 2,4 persen.
Tekanan asing terlihat dari penjualan bersih (net sell) yang mencapai sekitar Rp 32,1 triliun sepanjang tahun berjalan.
Fundamental Tetap Kuat, Penurunan karena Premi Risiko
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai koreksi harga BBCA bukan disebabkan penurunan kinerja keuangan. Menurutnya, penurunan lebih dipicu dinamika sentimen eksternal.
"Ruang penguatan masih ada.
Harga turun 22,60% sepanjang tahun padahal laba tetap tumbuh, artinya penurunan karena premi risiko naik, bukan bisnis memburuk," ujar Wafi.
Wafi menjelaskan struktur keuangan BCA ditopang porsi dana murah (CASA) yang tinggi, eksposur kredit mikro minimal, dan dividen kuartalan.
Namun, ketidakpastian peninjauan MSCI pada November serta kebijakan short selling di Bursa Efek Indonesia tetap menjadi perhatian pasar.
"Sebagai saham berbobot terbesar dan paling likuid, BBCA selalu pertama dijual saat asing keluar dan pertama dibeli saat asing kembali," jelas Wafi.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengungkapkan kombinasi pelemahan IHSG, penyesuaian portofolio asing, dan isu akuisisi yang telah dibantah manajemen turut memicu volatilitas harga saham.
"Short selling memang bisa menambah beban psikologis ke pergerakan harga, tetapi menurut kami belum menjadi faktor dominan," kata Kevin.
Kiwoom Sekuritas menetapkan rekomendasi buy untuk BBCA dengan mempertimbangkan ketahanan profitabilitas, solidnya kualitas aset, serta peluang kenaikan margin bunga bersih dan pemulihan arus dana modal asing dalam jangka panjang.
