Partai-partai di Latvia bersiap memulai negosiasi pembentukan pemerintahan baru setelah pemilu parlemen digelar pada Sabtu.
Koalisi empat partai yang dipimpin Perdana Menteri Andris Kulbergs, yang dikenal pro-Ukraina, meraih 35% suara.
Hasil itu menempatkan koalisi sebagai kekuatan utama, tetapi belum cukup untuk memerintah sendiri di parlemen Saeima yang terfragmentasi.
Latar Krisis Politik dan Dukungan untuk Ukraina
Krisis politik pada Mei terkait penanganan drone nyasar yang diduga berasal dari Ukraina menjatuhkan koalisi pemerintahan sebelumnya.
Koalisi itu sebelumnya sudah berada di bawah tekanan karena sejumlah isu lain.
Parlemen Saeima kemudian menyetujui koalisi yang dipimpin Kulbergs dari partai tengah United List, yang sebelumnya berada di oposisi.
Latvia, seperti tetangga Baltiknya Lituania dan Estonia, sangat mendukung Ukraina dalam perjuangannya menghadapi invasi Moskow.
Negara itu berbatasan dengan Rusia dan Belarus yang bersekutu dengan Moskow.
Pemungutan suara Sabtu berlangsung saat republik kecil di sayap timur NATO itu menghadapi kekhawatiran meningkat atas potensi agresi Rusia.
Tingkat partisipasi pemilih tercatat di atas 51%, menurut data pemilu.
Sekitar 1,56 juta orang dari populasi lebih dari 1,8 juta berhak memilih 100 anggota Saeima untuk masa jabatan empat tahun.
Partai United List diperkirakan meraih 42 kursi di parlemen, sehingga koalisi multipartai tetap diperlukan untuk memerintah.
Partai harus meraih minimal 5% suara agar bisa mendapatkan kursi di parlemen.
