Tren fesyen K-drama era 2000-an kembali mencuri perhatian perempuan muda Korea Selatan. Gaya yang disebut "grown woman look" ini menonjolkan feminitas yang halus dan tidak berlebihan.
Setelah bertahun-tahun didominasi estetika Y2K yang berani dan playful, konsumen beralih ke tampilan yang tampak effortless namun tetap rapi.
Warna-warna dalam, siluet bersih, dan gaya yang restrained menjadi elemen utamanya.
Ketertarikan ini bahkan menghidupkan kembali gaya busana karakter perempuan dari drama Korea yang tayang hampir dua dekade lalu.
Di media sosial dan komunitas online, penampilan Han Yoo-joo yang diperankan Chae Jung-an dalam drama "Coffee Prince" (2007) kembali dijadikan inspirasi.
Selain itu, gaya Yoo Hee-jin yang dibawakan Jung Ryeo-won dalam "My Lovely Sam Soon" (2005) serta karakter Yoo In-na di sitkom "High Kick Through the Roof" (2009) juga ditemukan kembali sebagai referensi fesyen.
Data penjualan menunjukkan tren ini melampaui perbincangan daring.
Platform fesyen online W Concept, yang dioperasikan Shinsegae Group, mencatat transaksi pakaian musim gugur naik lebih dari 30 persen pada 23-28 Agustus dibandingkan 18-22 Agustus.
Penjualan rajutan melonjak 85 persen, diikuti sepatu bertumit sedang 40 persen, tas tote 35 persen, dan pakaian luar 20 persen.
Merah, burgundy, dan plum juga muncul sebagai warna aksen populer.
Respons Merek Fesyen
Merek sepatu kasual LeMouton ikut meramaikan tren dengan sepatu bergaya Mary Jane.
Model ini bercirikan ujung membulat dan tali melintang di atas kaki, cocok bagi konsumen yang menginginkan tampilan feminin tanpa hiasan berlebihan.
Penjualan lini Mary Jane LeMouton mencapai 11 miliar won (sekitar 7,8 juta dolar AS) hingga Agustus, naik 110 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Sepatu sneakers Let's Mary Jane yang diluncurkan Oktober tahun lalu bahkan menembus penjualan kumulatif 100.000 pasang dalam setahun.
GS Shop, unit home shopping dari GS Retail, juga menyasar permintaan estetika grown woman.
Label fesyennya, So Natural, mengusung konsep "soft minimalism" untuk musim gugur dan dingin dengan menekankan tekstur mewah seperti cashmere, wol, dan camel hair.
"Musim gugur ini, fesyen yang menonjolkan daya tarik material dan siluet itu sendiri daripada dekorasi rumit sedang menarik perhatian, dan produk berbahan cashmere serta wol terbukti populer," ujar seorang pejabat GS Shop.
Merek fesyen kontemporer wanita Instantfunk juga mengadopsi perubahan ini.
Dalam koleksi musim gugur dan dingin bertema "NEXT CHAPTER," mereka menggunakan potongan akrab seperti denim dan rajutan, dipadukan dengan ikat pinggang serta aksesori untuk tampilan lebih rapi.
"Sambil mempertahankan identitas merek, kami menambahkan siluet bervolume, material kontras, dan aksen aksesori sejalan dengan popularitas grown woman look," kata seorang pejabat Instantfunk.
"Kami menawarkan gaya yang lebih halus dan berkembang."
Pergeseran ini mencerminkan perubahan selera fesyen konsumen muda Korea. Setelah musim crop top, nostalgia playful, dan eksperimen Y2K, kecanggihan yang understated kini mendapat momennya.
