Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat di atas level MA5 pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026.
Indeks berpeluang melanjutkan tren positif menuju level 6.150 hingga 6.200.
Penguatan ini didorong indikator teknikal serta sentimen pasar global.
Peningkatan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang lebih dovish pasca rilis data tenaga kerja Amerika Serikat menjadi pendorong utama.
Selain faktor kebijakan moneter global, penguatan sektor energi dan bahan mentah turut menopang indeks.
Penahanan produksi oleh OPEC serta kenaikan harga emas dunia memberikan stimulus tambahan bagi pergerakan bursa.
Sinyal Teknikal dan Proyeksi Analis
Analis Alrich menjelaskan indikator teknikal yang melandasi potensi pergerakan indeks saham tersebut.
"Secara teknikal, indikator Stochastic RSI mengindikasikan reversal di area oversold dan terjadi penyempitan histogram negatif MACD. IHSG ditutup di atas level MA5," kata Alrich.
Kondisi teknikal tersebut memicu perkiraan penguatan lanjutan pada indeks saham domestik.
Namun, pasar saham global masih dibayangi pergerakan terbatas pada indeks futures Wall Street akibat rilis data tenaga kerja AS yang berada di bawah estimasi, meski yield US Treasury mengalami kenaikan.
Di sisi lain, harga minyak Brent berada di kisaran US$ 101 per barel akibat dominasi sentimen peningkatan pasokan global atas risiko geopolitik Timur Tengah.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan analisanya terkait proyeksi pergerakan indeks untuk hari berikutnya.
"Untuk Selasa (6/10/2026) IHSG masih berpeluang menguat dengan support 6.077 dan resistance 6.149," ujar Herditya.
Faktor harga komoditas dunia dan regulasi batas bawah harga saham Rp1 dinilai masih akan memengaruhi laju indeks.
Untuk opsi perdagangan, investor direkomendasikan mencermati saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) di area Rp2.610-Rp2.650, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di kisaran Rp4.420-Rp4.660, dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) pada Rp1.450-Rp1.485 per saham.
