Penyanyi Celine Dion kembali bersiap naik panggung setelah hampir empat tahun mengumumkan diagnosis stiff person syndrome.
Dion dijadwalkan menggelar pertunjukan terbatas di Perancis mulai 12 September 2026.
Untuk persiapan, Dion menjalani rangkaian perawatan intensif yang mencakup obat-obatan, fisioterapi, terapi vokal, imunoterapi, serta olahraga.
Salah satu kegiatan rutinnya adalah latihan Pilates berdurasi 90 menit sebanyak tiga kali sepekan, diselingi kelas balet dua kali seminggu.
Menjaga Mobilitas di Tengah Stiff Person Syndrome
Rutinitas fisik tersebut diterapkan guna menjaga mobilitas tubuh di tengah kondisi gangguan neurologis langka yang memicu kekakuan otot dan kejang menyakitkan.
Stiff person syndrome merupakan gangguan progresif pada sistem saraf pusat yang diduga berkaitan dengan respons autoimun.
Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), kelainan ini dapat menyebabkan kekakuan otot pada area batang tubuh, lengan, dan kaki.
Penderita juga cenderung lebih sensitif terhadap suara, sentuhan, maupun tekanan emosional yang berpotensi memicu kejang otot.
Dalam kondisi medis demikian, olahraga berintensitas rendah seperti Pilates dan balet dinilai efektif menjaga fleksibilitas serta keseimbangan.
Ahli saraf Olivia Gruder menjelaskan bahwa masalah utama penyakit ini terletak pada aktivitas otot berlebih yang muncul secara berulang atau terus-menerus.
"Namun, masalah utamanya adalah masalah dengan aktivitas otot yang berlebihan secara terus-menerus atau episodik dan kejang yang menyakitkan," kata Olivia Gruder.
Otot yang menegang secara berkelanjutan dapat memicu dampak sekunder bagi fisik penderitanya.
Kinerja gerak tubuh akan berkurang seiring berjalannya waktu jika tidak mendapatkan penanganan fisik yang tepat.
"Ketika otot terus seperti ini dari waktu ke waktu, hal itu dapat menyebabkan berkurangnya fleksibilitas sekunder, tubuh tidak keseimbangan, nyeri, dan penurunan kondisi otot lainnya," tambah Olivia Gruder.
Olahraga terkontrol seperti balet dan Pilates membantu mengontrol perpindahan berat badan, memperkuat otot inti, serta melatih kestabilan saat berdiri dengan satu kaki.
Gruder menekankan bahwa gerakan berintensitas rendah meminimalkan risiko kejutan tiba-tiba yang berpotensi memicu kejang.
Terapis fisik Jennifer M. Nash menuturkan bahwa latihan ini juga memadukan teknik pernapasan untuk membantu fisik merasa rileks dan terkendali.
Pola gerakan yang terstruktur mampu membangun kembali kepercayaan diri pasien saat bergerak tanpa rasa takut terjatuh.
Ahli saraf Clifford Segil menambahkan bahwa aktivitas fisik berkelanjutan membantu mengasah kemampuan propriosepsi, yakni kesadaran tubuh terhadap posisinya di dalam ruang.
Bagi penderita gangguan neurologis, konsistensi bergerak sangat krusial untuk mempertahankan fungsi mandiri tubuh, baik melalui jalan kaki, yoga kursi, maupun gerakan terpadu lainnya.