unique visitors counter
⌂ Beranda › News › IHSG Sentuh Bottom, MSCI dan Rotasi AI Jadi Penentu
News

IHSG Sentuh Bottom, MSCI dan Rotasi AI Jadi Penentu

Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kuartal IV 2026
IHSG Sentuh Bottom, MSCI dan Rotasi AI Jadi Penentu
A A Ukuran Teks16px

Pasar modal Indonesia dinilai menyimpan peluang rebound pada kuartal IV 2026 setelah tertekan sepanjang semester pertama tahun ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut telah menyentuh titik terendah pada level 5.342,14 di awal Juni 2026.

Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Stefanus Dennis Winarto, menilai pasar saham sebenarnya sudah mencapai bottom.

Meski sentimen negatif masih membayangi hingga September 2026, IHSG dinilai telah membentuk area keseimbangan baru di kisaran level 6.000-an dan cenderung bergerak mendatar.

"Kita lihat sebenarnya tinggal tunggu sentimennya berbalik arah sih," kata Stefanus dalam Media Gathering, Selasa (6/10/2026).

"Tetapi market-nya sudah reach bottom, jadi tidak bisa turun lagi. Itu biasanya tanda-tanda ya, bahwa yaudah itu level bottom-nya di situ," ucap dia.

"Kita tinggal tunggu sentimen berbalik arah sih, karena sebenarnya berita buruknya enggak berhenti, tapi market-nya sideways (datar) saja," terang dia.

Dua Katalis yang Ditunggu Pasar

Stefanus menjelaskan ada dua faktor utama yang ditunggu pasar untuk memicu pembalikan arah.

Faktor pertama adalah pengumuman indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026 terkait status pembekuan pasar modal Indonesia.

Langkah pembenahan dari regulator dan pengelola bursa, termasuk perombakan manajemen di OJK serta peningkatan transparansi tata kelola, diharapkan dapat menghentikan status pembekuan tersebut.

Valuasi saham domestik saat ini juga dinilai sudah sangat murah.

"Harusnya di sudah cukup," ucap dia.

"Kalau misal MSCI itu di November membuat keputusan freeze-nya disetop, ya itu bisa jadi perubahan sentimen sih, karena dari sisi valuasi sudah sangat murah," ungkap dia.

Katalis kedua berasal dari potensi rotasi modal asing dari Amerika Serikat.

Saham berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) di AS diperkirakan mendekati titik jenuh dan mengalami overvalued, sehingga memicu perpindahan modal ke negara berkembang seperti Indonesia.

"Dari yang overvalued, ya kebanyakan perusahaan AI itu overvalued, ke pasar emerging, terutama yang undervalued seperti Indonesia," ucap dia.

"Kalau dua katalis itu terjadi, sentimennya akan berbalik arah cukup cepat sih," ungkap dia.

Di sisi lain, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengingatkan bahwa IHSG masih membentang tantangan berat sepanjang Oktober 2026 akibat tekanan eksternal.

IHSG tercatat melemah sekitar 7 persen sepanjang September 2026.

Kombinasi risiko dari lonjakan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury), penguatan dolar AS, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS menjadi pemicu utama sikap bearish Mirae Asset.

"Memasuki September, kami mengambil pandangan bearish terhadap IHSG.

Risiko yang menjadi dasar pandangan tersebut sebagian besar telah terealisasi, mulai dari kenaikan tajam yield US Treasury, penguatan dollar AS hingga pelemahan rupiah mendekati Rp 18.000 per dollar AS," ujar Rully, Selasa (6/10/2026).

Data ketenagakerjaan AS September yang hanya tumbuh 29.000 pekerjaan mengindikasikan pendinginan pasar tenaga kerja.

Namun, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun bertahan tinggi di kisaran 5,3 persen bersamaan dengan harga minyak dunia yang tetap mahal.

Meskipun koreksi pasar berlangsung cukup dalam, proyeksi makroekonomi Mirae Asset Sekuritas tidak mengalami perubahan.

"Pandangan makro kami tidak berubah hanya karena pasar telah terkoreksi," tutup Rully.

Mirae Asset mematok target IHSG berada pada kisaran level 6.800 hingga penutupan akhir tahun 2026.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan Selasa (6/10/2026), IHSG tercatat menguat 1,21 persen atau 74,06 poin ke posisi 6.192,92, dengan nilai transaksi sebesar Rp 12,35 triliun dari volume 48,22 miliar saham.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru