unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Koneksi Lebih Penting daripada Topik dalam Obrolan Ringan
News

Koneksi Lebih Penting daripada Topik dalam Obrolan Ringan

Ilustrasi dua orang berbincang ringan tentang topik sederhana
Koneksi Lebih Penting daripada Topik dalam Obrolan Ringan
A A Ukuran Teks16px

Banyak orang menghindari obrolan ringan tentang hal-hal sepele karena dianggap membosankan. Padahal, percakapan sederhana semacam itu justru berdampak positif bagi kondisi fisik dan psikologis.

Temuan ini berasal dari riset berjudul "Conversations About Boring Topics Are More Interesting Than We Think" yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology.

Studi tersebut melibatkan 1.800 responden yang diminta memprediksi tingkat kenikmatan saat membahas topik biasa seperti matematika, bawang bombai, pasar saham, hingga diet vegan.

Diskusi berlangsung tatap muka maupun daring, baik dengan teman maupun orang asing. Hasilnya, peserta merasakan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan daripada perkiraan awal mereka.

Koneksi Lebih Penting daripada Topik

Penulis utama studi dari University of Michigan, Elizabeth Trinh, menjelaskan bahwa banyak orang sengaja menghindari percakapan karena berasumsi akan menguras tenaga atau terasa garing.

"Kami memutuskan untuk melakukan penelitian ini karena begitu banyak orang menghindari percakapan yang mereka pikir akan membosankan," kata Trinh.

"Jika percakapan pada umumnya baik untuk kita, mengapa kita sering berharap percakapan itu akan membosankan atau menguras tenaga?"

lanjutnya.

Rasa terhubung dan rasa didengar saat saling merespons menjadi faktor utama yang membangun kenikmatan, bukan bergantung pada menarik atau tidaknya subjek yang dibahas.

"Keterlibatan mendorong kenikmatan lebih dari sekadar topik. Orang berasumsi bahwa ketertarikan berasal dari memiliki subjek yang menarik," ujar Trinh.

"Namun nyatanya, apa yang membuat percakapan menyenangkan adalah rasa koneksi seperti merasa didengar, merespons satu sama lain, dan menemukan detail tak terduga tentang kehidupan seseorang.

Bahkan topik yang biasa pun bisa menjadi bermakna ketika dua orang secara aktif saling terlibat," tambahnya.

Membangun komunikasi lewat tema sederhana tetap terhitung sebagai bentuk hubungan sosial yang bermakna. Langkah ini efektif melindungi seseorang dari rasa terisolasi.

Asisten profesor psikiatri di Vanderbilt University Medical Center, Aaron P. Brinen, menyampaikan bahwa interaksi aktif membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk saling terhubung.

"Bahkan jika kamu tidak ingin menjadi bagian dari percakapan itu, kamu tetap kesepian.

Ketika kita menemukan cara untuk terlibat dengan orang lain, hal itu memenuhi kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain," kata Brinen.

Pandangan senada disampaikan profesor asosiasi klinis psikologi di NYU Langone Health, Thea Gallagher, yang menekankan pentingnya mendengarkan saat mencoba terhubung dengan lawan bicara.

Isolasi sosial dan rasa kesepian yang dibiarkan berlarut-larut berisiko memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, depresi, kecemasan, demensia, hingga risiko kematian dini.

Psikolog dari The Ohio State University Wexner Medical Center, Nicholas Allan, menegaskan bahwa kualitas interaksi menjadi penentu utama dalam memberikan manfaat bagi kesehatan.

"Kesepian bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang dilihat seseorang. Ini tentang apakah interaksi terasa menghubungkan dan bermakna," kata Allan.

"Tidak semua kontak sosial itu bermanfaat. Lebih banyak kontak tidak otomatis lebih baik.

Apa yang tampaknya paling penting adalah apakah interaksi itu terasa saling menghormati, timbal balik, dan aman secara emosional.

Koneksi positif membantu. Interaksi yang menguras tenaga atau bermusuhan tidak," papar Allan.

Menjaga keterbukaan diri terhadap peluang komunikasi sehari-hari dapat menekan perasaan kesepian sekaligus meminimalkan berbagai risiko kesehatan dalam jangka panjang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru