unique visitors counter
⌂ Beranda › IPTEK › Meutya Hafid Ingatkan Data Center AI Tak Boleh Ganggu Air dan Energi Warga
IPTEK

Meutya Hafid Ingatkan Data Center AI Tak Boleh Ganggu Air dan Energi Warga

Ilustrasi data center untuk kecerdasan buatan di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Pemerintah menegaskan pertumbuhan data center untuk kecerdasan buatan tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan Indonesia tetap memerlukan tambahan kapasitas komputasi guna mendukung ekonomi digital dan industri kreatif.

Namun, ia mengingatkan pembangunan fasilitas tersebut harus memperhitungkan kemampuan wilayah, terutama pasokan energi dan air.

"Kita memang membutuhkan computing capacity, tetapi jangan sampai kemudian kebutuhan energi ini mengganggu kebutuhan energi kita, terutama untuk pelayanan publik," ujar Meutya usai jumpa pers di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Ia menambahkan kebutuhan air juga tidak boleh terganggu oleh operasional data center.

Lokasi Data Center Harus Seimbang

Meutya menilai penentuan lokasi data center tidak bisa hanya melihat ketersediaan lahan.

Pemerintah perlu memastikan lokasi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan komputasi sekaligus memiliki sumber daya pendukung yang memadai.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain jumlah pengguna internet, kualitas konektivitas, serta ketersediaan air dan energi.

"Jadi memang harus ada keseimbangan. Di mana titik-titik itu harus kita tentukan berdasarkan kebutuhan kita sekarang," jelasnya.

Pendekatan itu penting karena investasi data center di Indonesia terus berkembang.

Pemerintah sebelumnya menyebut ada minat investor untuk membangun tambahan kapasitas sekitar 1,3 GW, sementara kapasitas yang sudah beroperasi berada di kisaran 580 MW.

Indonesia juga tengah membangun infrastruktur komputasi untuk kebutuhan AI melalui pengembangan AI Factory.

Kawasan Jatiluhur menjadi perhatian khusus karena rencana operasional fasilitas AI di sana membutuhkan pasokan air yang sangat besar.

Meutya menyinggung perubahan kondisi global yang membuat investasi data center semakin menarik seiring persaingan kapasitas komputasi.

Namun, Indonesia tidak ingin pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan wilayah.

"Kita harus melihat juga jangan sampai kemudian kita kebanjiran data center, tetapi memang kita harus melihat titik-titik mana yang sesuai dengan kebutuhan kita," katanya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru