Harga minyak dunia kembali menguat pada Kamis (8/10/2026) seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati 105 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 92 dollar AS per barrel.
Laporan The Atlantic menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu atau midterm elections di AS.
Pentagon disebut sedang mengkaji sejumlah opsi, tetapi belum menetapkan keputusan final.
Risiko terhadap jalur perdagangan energi turut menjadi perhatian karena insiden serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz semakin meningkat.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Tekanan terhadap pasokan juga datang dari kondisi cuaca di kawasan Teluk Meksiko.
Badai tropis Isaias mendekati pesisir Teluk AS dan diperkirakan mencapai daratan sebagai badai pada Jumat (9/10/2026).
Chevron menyatakan telah mengevakuasi pekerja yang tidak memiliki tugas penting dari sejumlah anjungan lepas pantai di kawasan tersebut.
Langkah itu berlangsung ketika pasar menghadapi sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pasokan energi.
Analis pasar senior Trade Nation David Morrison menilai berbagai faktor tersebut memberikan pengaruh lebih kuat terhadap harga minyak dibandingkan kabar mengenai percepatan pelepasan cadangan minyak dan produk sulingan oleh Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA).
"Faktor-faktor ini mengalahkan kabar bahwa Badan Energi Internasional mempercepat pelepasan cadangan minyak dan produk sulingan," kata Morrison, dikutip dari Yahoo Finance, Kamis.
Sebelumnya, IEA mempercepat pelepasan stok minyak dan produk olahan untuk membantu menambah pasokan ketika kondisi pasar sedang ketat.
Namun, langkah tersebut belum menghilangkan pengaruh faktor geopolitik dan cuaca terhadap pergerakan harga minyak.
Kenaikan energi memperkuat tekanan inflasi
Harga energi yang meningkat turut memperbesar kekhawatiran mengenai inflasi.
Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat guna menekan inflasi.
Pasar sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember 2026.
Satu basis poin setara dengan 0,01 persen.
Pergerakan imbal hasil obligasi juga menunjukkan kenaikan di berbagai negara.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun meningkat menjadi 5,32 persen.
Di sektor hilir, volatilitas harga minyak mentah dan kapasitas pengolahan yang telah mencapai batas turut mendorong kenaikan harga bahan bakar olahan.
Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai 4,36 dollar AS per galon pada Kamis.
Sementara itu, harga rata-rata diesel tercatat 6,28 dollar AS per galon.
Nilai tersebut turun 0,02 dollar AS dibandingkan sehari sebelumnya.
Pemerintahan Trump sebelumnya mencari sejumlah cara untuk menekan tingginya biaya energi menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Upaya tersebut berlangsung ketika harga minyak dan bahan bakar menjadi perhatian pasar.
Pada Selasa (6/10/2026), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan penangguhan pajak federal atas bensin.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan pemerintah di tengah tingginya biaya energi.
