Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyiapkan rencana kontingensi untuk melindungi warga negara Indonesia di Arab Saudi.
Langkah ini diambil setelah serangan kelompok Houthi menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, menyatakan rencana tersebut akan disesuaikan dengan kondisi keamanan di lapangan.
Berdasarkan data Kemlu, terdapat sekitar 581.000 WNI di Arab Saudi, terdiri atas 351.070 penduduk yang menetap dan 229.930 pengunjung atau peziarah.
Heni menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah darurat untuk menghadapi perkembangan situasi yang dapat memengaruhi keselamatan warga Indonesia.
"Rencana kontingensi sudah disiapkan dan akan selalu disesuaikan dengan perkembangan di lapangan," kata Heni dalam keterangannya kepada awak media, Minggu, 11 Oktober 2026.
Hingga 11 Oktober 2026, Kemlu memastikan tidak ada WNI yang tercatat meninggal dunia akibat serangan tersebut.
Namun, kemungkinan keterlibatan warga Indonesia di antara korban luka masih diperiksa oleh pihak terkait.
"Hingga 11 Oktober 2026, dipastikan tidak terdapat WNI yang menjadi korban meninggal dunia. Sementara itu, kemungkinan adanya WNI di antara korban luka masih dalam proses verifikasi," ujar Heni.
Menurut laporan nasional. kompas.
com, serangan di bandara tersebut menewaskan 12 orang, yakni empat warga Arab Saudi serta masing-masing dua warga Bangladesh dan satu warga dari Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Sebanyak 309 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk sejumlah korban dalam kondisi kritis yang telah memperoleh perawatan di beberapa rumah sakit.
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan memantau rumah sakit di Riyadh serta wilayah sekitarnya untuk memeriksa kemungkinan adanya WNI yang terdampak.
Perwakilan Indonesia juga mengimbau warga agar menjauhi kawasan berisiko, khususnya Bandara Internasional King Khalid, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Heni meminta WNI yang hendak melakukan perjalanan menuju atau meninggalkan Arab Saudi untuk memeriksa status penerbangan langsung kepada maskapai.
Informasi resmi dari otoritas Arab Saudi dan KBRI Riyadh juga perlu dipantau untuk mengetahui perubahan situasi keamanan dan perjalanan.
"WNI yang akan bepergian dari dan menuju Arab Saudi diimbau untuk memastikan kembali status penerbangannya kepada maskapai masing-masing dan terus mengikuti informasi resmi dari otoritas Arab Saudi maupun KBRI Riyadh," tutur Heni.
Kemlu menyediakan layanan bantuan melalui hotline KBRI Riyadh di nomor +966 569173990 dan KJRI Jeddah di nomor +966 503609667.
Kedua perwakilan tersebut bersama Kemlu terus memantau perkembangan dan menyiapkan langkah pelindungan bagi WNI.
Serangan terhadap bandara Riyadh berlangsung ketika konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi meningkat.
Menurut laporan ANTARA, pasukan pemerintah Yaman pada Sabtu menyatakan telah melumpuhkan lebih dari 1.150 petempur Houthi melalui lebih dari 1.900 serangan di berbagai front selama 24 jam.
Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Majed al-Nuzaili, menyebut operasi tersebut menyasar depot senjata, kamp militer, benteng pertahanan, posisi artileri, konsentrasi pasukan, dan jalur pasokan Houthi.
Serangan berlangsung di wilayah timur, barat, dan barat daya Yaman, termasuk sasaran militer di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Al-Nuzaili juga menyatakan lebih dari 180 kendaraan militer dan logistik hancur atau rusak.
Ia mengatakan operasi itu dimaksudkan untuk menghambat kemampuan Houthi memperkuat pasukan dan mempertahankan operasi di garis depan.
Angka-angka yang disampaikan pihak pemerintah Yaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sementara kelompok Houthi belum memberikan komentar.
Pemerintah Yaman memulai serangan berskala besar pada Senin, 5 Oktober 2026, untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Pertempuran sengit dilaporkan terkonsentrasi di sekitar Selat Bab al-Mandab di Yaman barat daya, sementara operasi udara Arab Saudi mendukung pasukan pemerintah dan Houthi meningkatkan serangan rudal serta pesawat nirawak ke sejumlah sasaran di Arab Saudi.
Konflik Yaman berlangsung sejak akhir 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara.
Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kini berkedudukan di Aden.
