Serangan drone Ukraina menghantam tiga pusat data milik perusahaan teknologi Rusia, Yandex, pada 8 hingga 11 Oktober 2026.
Akibatnya, sebagian infrastruktur digital Rusia lumpuh dan berbagai layanan daring terganggu.
Data pemantauan Cloudflare Radar menunjukkan penurunan tajam trafik internet otomatis dari jaringan Yandex, dengan sejumlah laporan menyebut penurunan sekitar 99 persen dari tingkat puncak sebelumnya.
Serangan menyasar fasilitas di wilayah Sasovo, Kaluga, dan Vladimir.
Dampak Luas ke Layanan Digital
Dampaknya meluas ke layanan pembayaran, perbankan digital, surat elektronik, perdagangan elektronik, streaming video, transportasi daring, pengantaran makanan, serta navigasi dan peta.
Laporan Ars Technica yang diterbitkan pada 12 Oktober 2026 menyebut gangguan ini juga memengaruhi layanan komputasi awan Yandex yang digunakan sejumlah perusahaan besar Rusia.
Pengguna terdampak mencakup jaringan toko bahan makanan, restoran cepat saji, dan peritel peralatan rumah tangga, sebagaimana dilaporkan The Moscow Times.
Mesin pencari Yandex menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar di Rusia.
Serangan pertama menghantam pusat data di wilayah Sasovo pada 8 Oktober.
Fasilitas tersebut menampung dua dari tiga superkomputer yang digunakan Yandex untuk melatih model kecerdasan buatan YandexGPT.
Kedua superkomputer itu menggunakan chip GPU Nvidia A100.
Chervonenkis memiliki kinerja komputasi 29,42 petaflops dan menempati peringkat ke-101 dalam daftar Top 500, sedangkan Lyapunov mencapai 20,03 petaflops dan berada di peringkat ke-161.
Besarnya kerusakan pada kedua mesin tersebut belum diketahui secara pasti.
Pada 9 Oktober, serangan drone berikutnya menghantam pusat data Yandex di wilayah Kaluga, barat daya Moskow.
Fasilitas tersebut merupakan salah satu pusat data terbesar di Rusia, dengan kapasitas maksimum 63 megawatt.
Serangan ketiga terjadi di Vladimir pada 11 Oktober.
Menurut BBC News, insiden itu memaksa Yandex menghentikan operasional pusat data tersebut, yang menampung superkomputer Galushkin dengan kinerja 20,64 petaflops dan peringkat ke-134 dalam daftar Top 500.
Seorang pakar teknologi informasi yang diwawancarai surat kabar Kommersant memperkirakan penggantian peralatan pusat data yang rusak dapat memerlukan waktu hingga enam bulan.
Perkiraan tersebut menunjukkan gangguan terhadap infrastruktur komputasi perusahaan dapat berlangsung jauh melampaui waktu serangan.
Kerentanan Sentralisasi dan Upaya Cadangan
Sejumlah komentator militer pro-Kremlin menilai ketergantungan Rusia pada infrastruktur digital yang terpusat memperbesar kerentanan negara itu ketika pusat data utama diserang.
Dalam tulisan yang diterjemahkan oleh peneliti independen dengan nama samaran ChrisO_wiki, blogger militer Ratio Militaris menyoroti konsentrasi infrastruktur Yandex pada sejumlah fasilitas besar.
Ia menilai ekosistem digital Yandex, yang sebelumnya menjadi salah satu keunggulan Rusia dibandingkan sejumlah negara Barat, justru memperlihatkan kelemahan akibat sentralisasi berlebihan.
Ketergantungan pasar pada satu perusahaan dominan dan pemusatan kapasitas komputasi pada beberapa lokasi membuat gangguan di fasilitas utama berpotensi memengaruhi berbagai layanan sekaligus.
Blogger militer Rusia lainnya, Artjockey, menyoroti hambatan dalam membangun sistem cadangan di luar negeri.
Menurut tulisannya yang diterjemahkan ChrisO_wiki, kebijakan internet berdaulat Rusia yang disahkan pada 2019 membatasi pilihan perusahaan untuk memindahkan infrastruktur penting ke negara lain.
Artjockey menyebut pemindahan infrastruktur teknologi informasi Rusia ke Belarus atau Kazakhstan menghadapi keterbatasan kapasitas.
China dinilai memiliki kemampuan yang lebih memadai, tetapi pemindahan layanan dan registri penting ke negara tersebut memerlukan perubahan peraturan.
Ukraina memiliki pendekatan yang lebih terdesentralisasi dengan pusat data berukuran lebih kecil serta infrastruktur cadangan yang ditempatkan di bawah tanah atau di luar negeri.
Microsoft dan Amazon juga menyediakan layanan komputasi awan gratis untuk membantu pemindahan layanan pemerintah Ukraina ke sejumlah lokasi di Eropa.
Amazon Web Services menampung lebih dari 15 petabyte data milik lebih dari 60 organisasi pemerintah Ukraina, serta data dari perusahaan energi swasta terbesar di negara itu, DTEK.
Infrastruktur cadangan tersebut membantu mempertahankan operasional berbagai layanan penting meskipun serangan rudal dan drone Rusia terus berlangsung.
Secara terpisah, laporan Fox56 yang diterbitkan pada 12 Oktober 2026 menyoroti dampak serangan terhadap trafik bot dari jaringan Yandex.
Data Cloudflare Radar menunjukkan penurunan besar permintaan web otomatis setelah fasilitas perusahaan itu terkena serangan, termasuk trafik yang mengarah ke situs-situs di Amerika Serikat.
Penurunan tersebut tidak membuktikan bahwa operasi disinformasi Rusia atau seluruh ancaman siber telah berakhir.
Bot dapat dipindahkan ke server lain, penyedia komputasi awan berbeda, perangkat yang telah disusupi, maupun jaringan di negara lain.
Serangan terhadap pusat data Yandex merupakan bagian dari eskalasi saling serang terhadap infrastruktur digital.
Rusia sebelumnya meningkatkan serangan terhadap pusat data, jaringan telekomunikasi, dan sistem kelistrikan Ukraina sejak akhir September, mengakibatkan gangguan internet dan komunikasi yang sempat memengaruhi hingga 100.000 rumah tangga di Kyiv.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menggambarkan serangan balasan terhadap infrastruktur Rusia sebagai respons simetris.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan Rusia menghadapi tantangan untuk memulihkan kapasitas pusat data Yandex yang rusak dan menjaga keberlangsungan layanan digital yang bergantung pada fasilitas tersebut.