Jerman menegaskan dukungannya kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Kyiv mengganti pemimpinnya.
Sikap Berlin disampaikan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Minggu, 11 Oktober 2026, di tengah perselisihan mengenai perang Rusia-Ukraina, pasokan bahan bakar solar, dan klaim gencatan senjata terhadap fasilitas energi kedua negara.
Menurut laporan AFP, Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati penghentian serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing.
Namun, Zelenskyy mengatakan kepada Axios bahwa pengumuman tersebut merupakan informasi baru baginya, sementara pihak Rusia belum memberikan tanggapan langsung atas klaim Trump.
Trump mengumumkan penghentian serangan energi melalui Truth Social tanpa merinci mekanisme ataupun waktu pelaksanaannya.
"Segera berlaku, ada gencatan senjata energi dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua belah pihak telah sepakat.
Jangan melanggarnya!" tulis Trump.
Sebelum pengumuman tersebut, Zelenskyy menyatakan Ukraina bersedia menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia apabila Moskow juga menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina.
Belum ada konfirmasi independen dalam laporan sumber mengenai pelaksanaan kesepakatan yang diumumkan Trump.
Konflik energi telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Ukraina.
Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, serangan terhadap fasilitas energi menyebabkan jutaan orang kehilangan akses listrik dan pemanas.
Di sisi lain, Ukraina menyerang kilang minyak Rusia yang dianggapnya membantu membiayai perang.
Penyedia energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, mengumumkan pemadaman listrik baru di Kyiv pada Minggu.
Ketegangan juga meningkat setelah Trump mencapai kesepakatan dengan Moskow mengenai pasokan solar pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Trump menyatakan Rusia akan memasok ratusan ribu ton bahan bakar untuk pasar Amerika Serikat dan pasar global meskipun sanksi terhadap Rusia masih berlaku.
Kesepakatan tersebut memicu kritik dari Zelenskyy dan sejumlah pejabat Eropa.
Trump menyalahkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia atas kenaikan harga solar dan mendesak agar Ukraina memiliki presiden baru.
Ia juga menuduh Zelenskyy menghambat tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Dalam wawancara dengan ABC News, Zelenskyy menolak anggapan bahwa Trump berhak menentukan kepemimpinan Ukraina.
Ia menegaskan bahwa keputusan mengenai pemimpin negara tersebut berada di tangan warga Ukraina.
"Pertama-tama, dengan segala hormat kepada Presiden Trump, terserah pada masyarakat dan rakyat kami untuk memilih pemimpin yang satu atau yang lainnya," ujar Zelenskyy kepada ABC News.
Sikap Jerman dan Kritik dari Eropa
Di Berlin, Wadephul menegaskan bahwa dukungan terhadap pemerintah Ukraina tetap menjadi kebijakan Jerman.
Ia juga menyerukan peningkatan tekanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin agar bersedia memasuki perundingan.
"Eropa membutuhkan stabilitas, dan itu berarti kami akan terus berdiri di pihak Ukraina dan pemerintahnya dengan sangat tegas," ujar Wadephul.
Menteri Pendidikan Jerman Karin Prien turut mengecam keputusan Trump terkait pasokan solar Rusia dan seruannya agar Ukraina mengganti presiden.
Menurut laporan dpa, Prien menyampaikan kritik tersebut melalui platform X pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026.
"Hanya untuk beberapa liter solar. Sungguh kebangkrutan moral," tulis Prien.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga menolak desakan pergantian kepemimpinan dari Washington.
Ia menyatakan Zelenskyy mendapat dukungan rakyat Ukraina dan menegaskan hak warga negara itu untuk menentukan pemimpin mereka sendiri.
"Pernyataan-pernyataan dari luar negeri hanya menegaskan bahwa ia (Zelenskyy) menjalankan tugasnya dengan baik. Ia layak mendapatkan dukungan," tulis Sybiha.
Ketua Komite Pertahanan di Parlemen Eropa, Marie-Agnes Strack-Zimmermann, mengecam tekanan Trump terhadap Zelenskyy.
Dalam pernyataannya, ia menilai campur tangan tersebut menempatkan presiden Amerika Serikat pada posisi yang tidak semestinya dalam menentukan kepemimpinan Ukraina.
"Jika Trump mendesak Zelenskyy untuk mengundurkan diri, ia secara tegas menempatkan dirinya di pihak sang pembunuh," kata Strack-Zimmermann.
Dalam wawancara dengan surat kabar Tagesspiegel, politikus Jerman itu menegaskan bahwa pemilihan umum bebas merupakan mekanisme untuk menentukan kepemimpinan Ukraina, bukan keputusan pemerintah asing.
"Yang berhak menentukan kepemimpinan Ukraina hanyalah rakyat Ukraina sendiri melalui pemilihan umum yang bebas, bukan Gedung Putih, dan terlebih lagi bukan Kremlin," ujar Strack-Zimmermann.
Strack-Zimmermann juga mengkritik sikap Trump terhadap sekutu dan lembaga demokrasi Barat.
Ia mendesak negara-negara Eropa mempertahankan dukungan bagi Ukraina dan tidak mengandalkan Amerika Serikat sebagai mitra yang selalu dapat dipercaya.
"Oleh karena itu, Eropa harus tetap berpegang teguh pada arah kebijakannya yang jelas dan terus mendukung Ukraina.
Untuk saat ini, Amerika Serikat bukanlah pihak yang dapat diandalkan," lanjut Strack-Zimmermann.
Jerman, Uni Eropa, dan Inggris menyatakan akan mempertahankan sanksi terhadap Rusia meskipun terdapat kesepakatan pasokan solar.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk membatasi sumber pendanaan yang digunakan Moskow dalam melanjutkan perang di Ukraina.