unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Gagal Tembus Resistance, Harga Minyak WTI Incar 87,92 Dolar
News

Gagal Tembus Resistance, Harga Minyak WTI Incar 87,92 Dolar

Ilustrasi pergerakan harga minyak mentah WTI
Gagal Tembus Resistance, Harga Minyak WTI Incar 87,92 Dolar
A A Ukuran Teks16px

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melemah menuju 87,92 dolar AS per barel.

Proyeksi ini muncul setelah harga gagal melewati area resistance 94,39 hingga 96,51 dolar AS per barel.

Analisis teknikal yang dilansir dari Money pada Selasa (13/10/2026) menyebut tekanan penurunan diperkirakan berlanjut. Momentum kenaikan dinilai belum mampu menembus batas tersebut.

Analisis harian Dupoin Futures memproyeksikan harga WTI bergerak menuju area support 89,53 hingga 87,92 dolar AS per barel.

Proyeksi itu menggunakan pola koreksi ABC.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai area resistance menjadi penentu penting bagi pergerakan harga minyak selanjutnya. Kegagalan menembus rentang tersebut dapat menunjukkan momentum kenaikan belum cukup kuat.

"Selama harga belum mampu menembus resistance 94,39-96,51 dolar AS, tekanan bearish atau kecenderungan penurunan harga masih berpotensi berlanjut," ujar Geraldo Kofit.

Pola koreksi ABC menggambarkan kemungkinan penurunan setelah pergerakan harga sebelumnya. Jika tekanan jual bertahan, WTI berpeluang menguji support 89,53 hingga 87,92 dolar AS per barel.

Sebaliknya, penembusan resistance dapat menjadi sinyal melemahnya tekanan penurunan. Kondisi itu dapat mendorong peninjauan ulang terhadap proyeksi teknikal.

Risiko Geopolitik dan Pasokan Jadi Faktor Penyeimbang

Risiko geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat menopang harga minyak. Pada 3 Oktober 2026, api berkobar di fasilitas minyak Aramco di Riyadh, Arab Saudi.

Dalam beberapa pekan terakhir, fasilitas perusahaan tersebut berulang kali menjadi sasaran serangan Houthi. Ketegangan kawasan berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan produksi, pasokan, dan distribusi energi global.

Risiko terhadap jalur pelayaran strategis juga dapat menghambat pengiriman minyak mentah. Hal itu mendorong volatilitas harga di pasar internasional.

Jika ancaman terhadap pasokan meningkat, pelaku pasar dapat memperhitungkan kemungkinan berkurangnya ketersediaan minyak. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dorongan kenaikan harga meski indikator teknikal masih menunjukkan kecenderungan melemah.

Di sisi lain, prospek meredanya konflik Rusia-Ukraina dapat membatasi penguatan harga minyak. Perkembangan diplomatik yang mendorong pemulihan pasokan energi berpotensi mengurangi kekhawatiran mengenai keterbatasan pasokan di pasar global.

Peningkatan ketersediaan minyak dapat menekan harga, terutama apabila pertumbuhan permintaan tidak cukup kuat untuk menyerap tambahan pasokan.

Karena itu, arah pergerakan WTI turut dipengaruhi keseimbangan antara risiko gangguan pasokan, pemulihan pasokan energi, dan kondisi permintaan global.

Dupoin Futures menempatkan 94,39 hingga 96,51 dolar AS per barel sebagai zona resistance utama.

Sementara itu, 89,53 hingga 87,92 dolar AS per barel menjadi area support yang perlu diperhatikan.

Proyeksi tersebut menggambarkan kemungkinan pergerakan berdasarkan kondisi pasar. Angka itu bukan kepastian harga atau rekomendasi transaksi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru