Menghadapi anak yang sedang mengamuk membutuhkan cara komunikasi yang tepat agar emosinya tidak semakin meningkat.
Psikolog anak Amy Kincaid Todey, Ph. D.
, menyarankan teknik low and slow untuk membantu anak merasa lebih aman.
Teknik ini dilakukan dengan berbicara menggunakan suara lebih rendah dan tempo lebih lambat.
Pendekatan tersebut bertujuan membantu anak menghadapi perasaan yang sedang muncul, bukan sekadar menghentikan tangisan atau kemarahan.
Saat emosi anak memuncak, sistem saraf mereka mencari tanda keamanan atau ancaman dari lingkungan sekitar, termasuk dari respons orang tua.
Kondisi itu dapat mengganggu kemampuan berpikir logis dan mengendalikan dorongan.
Karena itu, anak biasanya sulit menerima penjelasan panjang ketika sedang marah.
Orang tua yang ikut meninggikan suara, berbicara cepat, atau terus memberi perintah dapat membuat suasana semakin tegang.
Amy menjelaskan bahwa orang tua perlu mengatur emosinya sendiri sebelum membantu anak.
"Anak-anak belajar bagaimana mengendalikan emosi mereka dengan mengamati cara kita mengendalikan emosi kita," kata Amy.
Ia juga menyampaikan bahwa orang tua tidak harus selalu berada dalam kondisi benar-benar tenang.
Hal yang penting adalah mampu menunjukkan kondisi yang lebih stabil dibandingkan anak.
"Saya sering mengatakan kepada orang tua: Anda tidak perlu selalu tenang. Anda hanya perlu lebih tenang daripada anak Anda."
Penerapan low and slow dalam komunikasi
Psikolog klinis di Massachusetts, dr. Rebecca Weksner, PsyD, menjelaskan bahwa teknik low and slow tidak hanya berkaitan dengan suara, tetapi juga bahasa tubuh orang tua.
Orang tua dapat menurunkan volume suara, memperlambat cara berbicara, dan menyesuaikan posisi tubuh agar sejajar dengan mata anak.
"Dengan menurunkan volume suara Anda satu oktaf dan posisi tubuh Anda sejajar dengan mata anak, Anda memberikan contoh cara menenangkan otak anak tanpa instruksi eksplisit," kata Rebecca.
Selain mengatur nada suara, Amy menyarankan penggunaan kalimat singkat ketika anak sedang mengamuk.
Orang tua dapat mengakui perasaan anak tanpa berarti membenarkan semua perilakunya.
Contoh kalimat yang dapat digunakan adalah "Ibu tahu kamu sedang kesal."
Orang tua tetap dapat memberikan batasan dengan mengatakan, "Ibu tahu kamu sedang kesal, tetapi jawabannya tetap tidak."
Mengakui emosi anak menunjukkan bahwa orang tua memahami perasaan mereka.
Pada saat yang sama, aturan dan batasan tetap dapat diterapkan secara tegas.
Teknik low and slow dapat diterapkan pada berbagai usia, tetapi pilihan kata perlu disesuaikan dengan perkembangan anak.
Pada anak yang lebih besar dan remaja, kalimat yang terasa menggurui dapat membuat mereka enggan berbicara.
Amy menyarankan penggunaan ungkapan yang lebih alami seperti "Ibu tahu ini mengecewakan," atau pertanyaan seperti "Kamu merasa malu karena kejadian tadi?"
Setelah berbicara, orang tua sebaiknya memberi ruang agar anak merespons tanpa terus didesak.
Ketika remaja mengoreksi dugaan orang tua tentang emosinya, proses tersebut tetap membantu mereka mengenali perasaan sendiri.
"Saya tidak kecewa. Saya marah," kata Amy.
Ia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan remaja sudah mampu mengidentifikasi emosi yang dirasakan.
Setelah kondisi lebih tenang, orang tua dapat mengajak anak membahas masalah yang terjadi dan mencari solusi bersama.
Teknik ini tidak menjamin anak langsung berhenti marah karena setiap anak memiliki respons berbeda terhadap pendekatan pengasuhan.