Peningkatan penggunaan kecerdasan buatan generatif memicu pembangunan data center AI secara pesat di berbagai negara.
Dampaknya tidak hanya terasa pada industri teknologi, tetapi juga pada kebutuhan listrik dan komponen perangkat.
Produksi chip memori kini banyak terserap untuk kebutuhan data center AI, sehingga ikut mendorong kenaikan harga chip RAM di pasar.
Kebutuhan energi menjadi salah satu perhatian utama dalam ekspansi data center AI.
Menurut Badan Energi Internasional atau IEA, satu data center AI umumnya memakai listrik setara sekitar 100.000 rumah tangga.
Data center AI terbesar yang sedang dibangun bahkan diperkirakan membutuhkan listrik sekitar 20 kali lipat dari konsumsi tersebut.
Pada 2024, seluruh data center dunia memakai sekitar 415 terawatt jam TWh listrik, setara sekitar 1,5 persen konsumsi listrik global.
IEA memperkirakan penggunaan listrik data center meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, sedikit lebih besar dari konsumsi listrik Jepang saat ini.
Di Amerika Serikat, data center diperkirakan menyumbang hampir separuh pertumbuhan permintaan listrik hingga 2030.
Kondisi ini membuat kestabilan jaringan energi menjadi perhatian lembaga pengawas.
Risiko Gangguan Jaringan Listrik
Data center AI belum pernah tercatat menyebabkan satu kota mengalami pemadaman total.
Namun, beberapa kejadian hampir mengganggu sistem listrik sudah terjadi di Amerika Serikat.
Masalah terbesar bukan hanya karena data center memakai listrik dalam jumlah besar.
Gangguan dapat muncul ketika banyak fasilitas tersebut berhenti menggunakan listrik secara bersamaan.
Jaringan listrik harus menjaga keseimbangan antara produksi dari pembangkit dan konsumsi pelanggan.
Hilangnya beban listrik besar secara mendadak dapat membuat tegangan jaringan meningkat.
Salah satu kejadian terjadi di Northern Virginia pada 10 Juli 2024.
Wilayah yang dikenal sebagai Data Center Alley itu memiliki lebih dari 200 data center milik perusahaan seperti Microsoft, Google, dan Amazon.
Kerusakan penangkal petir pada jalur transmisi menyebabkan tegangan listrik turun enam kali dalam 82 detik.
Sistem cadangan membuat sekitar 60 data center terlepas dari jaringan secara bersamaan.
Total konsumsi listrik yang hilang mencapai sekitar 1.500 megawatt MW.
Sekitar 1.260 MW kemudian kembali tersambung setelah operator jaringan melakukan penanganan selama beberapa jam.
"Ketika data center makin besar dan mengonsumsi lebih banyak energi, jaringan listrik tidak dirancang untuk menahan hilangnya data center berkapasitas 1.500 megawatt," kata John Moura, Director of Reliability Assessment and System Analysis NERC, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters.
Selain konsumsi energi besar, proses pelatihan model AI juga menimbulkan tantangan karena penggunaan listrik dapat berubah cepat.
Perubahan tersebut membuat operator jaringan menghadapi pola konsumsi yang sulit diprediksi.
Menurut lembaga pengawas listrik Amerika Utara, pemakaian listrik data center saat training AI dapat turun dari lebih dari 400 MW menjadi sekitar 40 MW.
Dalam hitungan menit, konsumsi dapat kembali meningkat.
Perubahan mendadak ini dikategorikan sebagai risiko high likelihood, high impact.
Artinya, kejadian tersebut dinilai memiliki kemungkinan terjadi sekaligus berpotensi memberikan dampak besar.
Dalam kondisi terburuk, gangguan dapat memicu pemadaman berantai yang tidak terkendali.
Getaran listrik dari data center juga berpotensi menyebar ke pembangkit di sekitarnya.
Perkembangan Data Center AI di Indonesia
Indonesia belum melaporkan insiden serupa terkait data center AI.
Namun, kapasitas fasilitas data center di Tanah Air terus mengalami peningkatan.
PLN memproyeksikan kapasitas komputasi data center Indonesia naik dari sekitar 580 MW pada 2026 menjadi sekitar 3,5 GW pada 2030.
Kebutuhan daya dalam rencana hingga 2034 disebut bisa mencapai sekitar 25 GW.
Sebagian besar fasilitas data center Indonesia berada di Jakarta.
Data Center Map mencatat ada 204 data center di Indonesia per Oktober 2026, dengan 107 di antaranya berada di Jakarta.
Batam menjadi wilayah dengan jumlah data center terbanyak kedua, yakni 20 unit.
Setelah itu terdapat Surabaya dengan 9 unit, Denpasar 8 unit, Bandung 7 unit, dan Bekasi 6 unit.
Dari sisi kapasitas, data center yang beroperasi di Jakarta memiliki kapasitas sekitar 322 MW atau sekitar 55 persen dari kapasitas nasional.
Batam menyusul dengan kapasitas sekitar 126 MW.
Rencana pembangunan baru juga didominasi Jakarta dan Batam.
Jakarta memiliki rencana kapasitas baru sekitar 1,7 GW, sedangkan Batam sekitar 1,4 GW.