Pemerintah Azerbaijan menerapkan aturan seragam sekolah yang secara tidak langsung melarang penggunaan hijab di lingkungan pendidikan.
Kebijakan ini berlaku di sekolah negeri dan telah memicu protes dari siswa serta guru.
Perubahan aturan tertuang dalam Descriptions of Uniforms for Students of State General Education Institutions.
Menurut Azerbaijani Press Agency APA, aturan itu bertujuan memastikan pakaian seragam sesuai prinsip sekularisme.
Lembaga tersebut menyebut pakaian yang mencerminkan sejarah, budaya, dan nilai moral nasional masih dapat digunakan pada perayaan dengan persetujuan Pedagogical Council di bawah Ministry of Science and Education.
Sejumlah sekolah mulai mencegah siswa dan guru yang mengenakan hijab mengikuti kegiatan belajar.
Guru bernama Zahra Hasanova mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia diberi tahu tidak dapat lagi memakai hijab saat mengajar.
"Sejujurnya, saya sedikit emosional. Saya terluka," ujar Zahra Hasanova.
Zahra menilai penggunaan hijab merupakan pilihan pribadi.
Ia menyampaikan bahwa keputusan untuk memakai atau melepas hijab seharusnya tetap berada pada dirinya.
"Hijab adalah pilihan pribadi, dan jika suatu hari saya ingin melepasnya, itu juga harus menjadi pilihan saya," ujar Zahra Hasanova.
Protes dan Tanggapan Dewan Media
Protes muncul di Azerbaijan setelah aturan tersebut diterapkan.
Al Jazeera melaporkan video di media sosial memperlihatkan siswa menangis dan memeluk guru ketika mereka tidak diperbolehkan masuk sekolah.
Siswa di setidaknya dua sekolah dilaporkan memboikot kelas.
Jurnalis yang dipenjara Polad Aslanov juga melakukan aksi mogok makan terkait aturan baru tersebut.
Pesan yang disampaikan melalui akun Facebook istrinya, Gulmira Aslanova, menyebut aksi itu sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang ia anggap pelanggaran hak konstitusional.
"Meskipun berada di penjara, saya menyuarakan penolakan terhadap pengabaian hak konstitusional kami dengan menggunakan satu-satunya cara perjuangan yang tersedia bagi saya yaitu mogok makan!"
ujar Polad Aslanov.
Menurut Media and Broadcasting Council of the Republic of Azerbaijan, aturan seragam dibuat untuk menjaga pendidikan sekuler dan pendekatan yang sama di lingkungan sekolah.
Dewan itu juga menyoroti aktivitas media sosial terkait isu tersebut.
Mereka menyebut adanya penyebaran massal konten serupa, komentar negatif, dan seruan yang mendorong gangguan ketertiban umum.
Dewan menilai aktivitas akun-akun tersebut menunjukkan serangan troll dan manipulasi informasi yang dikelola dari satu pusat di luar negeri.
Tujuan utama gangguan itu, menurut dewan, adalah mendistorsi opini publik dan menjadikan topik ini alat untuk tujuan politik tertentu.
Dewan mengimbau warga, media, dan pengguna jejaring sosial untuk waspada terhadap aktivitas terkoordinasi dari akun mencurigakan.
Mereka juga meminta publik tidak menyebarkan konten manipulatif tanpa verifikasi dan tidak terpengaruh gelombang informasi artifisial.
Isu ini mendapat perhatian di Turkiye.
Demonstran berkumpul di depan konsulat Azerbaijan di Istanbul untuk memprotes pembatasan tersebut.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengeluarkan kritik tersirat terhadap pihak yang dianggap mencampuri gaya hidup negaranya.
Former Georgian President Mikheil Saakashvili menyatakan dukungan terhadap aturan seragam tersebut melalui media sosial.
Ia menilai kebijakan itu memperkuat posisi Azerbaijan sebagai negara sekuler dan menyebut pengaruh kelompok Islamis sebagai ancaman bagi kawasan.
