unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Dampak Karhutla Kalimantan bagi Hutan Tropis dan Satwa
News

Dampak Karhutla Kalimantan bagi Hutan Tropis dan Satwa

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang mengancam ekosistem tropis dan kawasan gambut
Dampak Karhutla Kalimantan bagi Hutan Tropis dan Satwa
A A Ukuran Teks16px

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menjadi ancaman serius bagi ekosistem hutan tropis. Dampaknya meluas ke kualitas udara, kawasan gambut, hingga kehidupan masyarakat adat dan lokal.

Kalimantan merupakan wilayah penting bagi hutan tropis Indonesia. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa, termasuk orangutan, bekantan, dan burung enggang.

Hutan juga berfungsi menyimpan karbon, mengatur siklus air, dan mendukung kehidupan masyarakat adat serta lokal. Ketika kebakaran terjadi, fungsi-fungsi tersebut ikut terancam.

Penyebab dan Faktor Pendorong Karhutla

Menurut World Resources Institute dalam kajian Exploring Indonesia's Long and Complicated History of Forest Fires, kebakaran di Indonesia secara historis banyak berkaitan dengan aktivitas manusia.

Aktivitas itu mencakup pembukaan lahan pertanian dan perkebunan serta pengeringan lahan gambut.

Data historis yang dikutip World Resources Institute mencatat sekitar 2,6 juta hektare lahan terbakar di Indonesia pada periode Juni hingga Oktober 2015.

Kalimantan Tengah termasuk provinsi yang mengalami peningkatan besar titik api saat periode tersebut.

Perubahan bentang alam menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan kawasan. Pembukaan hutan, pembangunan kanal, dan pengeringan lahan dapat mengubah kondisi yang sebelumnya menjaga kelembapan ekosistem.

Lahan gambut menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran karena lapisan organiknya terbentuk dalam waktu panjang dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Saat kondisi air gambut terganggu, permukaannya lebih mudah terbakar.

Kebakaran gambut juga memiliki karakter berbeda dari kebakaran vegetasi biasa.

Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit ketika kondisi kering masih berlangsung.

Penyebab karhutla tidak hanya berkaitan dengan cuaca.

Pembakaran vegetasi untuk pembukaan lahan, perubahan kelembapan kawasan, dan pengelolaan drainase gambut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pencegahan kebakaran.

Menurut sumber tersebut, strategi penanganan karhutla perlu mencakup pengelolaan lahan, pengawasan kawasan, pencegahan, serta penegakan hukum.

Kondisi iklim seperti musim kering dapat memperbesar risiko, tetapi penyebab awal kebakaran tetap perlu diselidiki.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru