unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Penahanan Jurnalis Jepang di Sakhalin: Tuduhan Spionase FSB
News

Penahanan Jurnalis Jepang di Sakhalin: Tuduhan Spionase FSB

Ilustrasi penahanan jurnalis Jepang oleh Rusia di Sakhalin
Penahanan Jurnalis Jepang di Sakhalin: Tuduhan Spionase FSB
A A Ukuran Teks16px

Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menahan jurnalis Jepang Yuki Imai dari surat kabar Hokkaido Shimbun di Sakhalin. Ia dituduh melakukan spionase dengan mengumpulkan informasi pertahanan Rusia.

Menurut FSB, Imai ditangkap sehari sebelum jadwal keberangkatannya dari Rusia. Pengadilan Lefortovo di Moskow memutuskan penahanan praperadilan hingga 12 Desember.

FSB menyatakan Imai memiliki akreditasi dari Kementerian Luar Negeri Rusia. Kasus pidana spionase dapat membawa ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.

FSB merilis video yang memperlihatkan petugas bertopeng memasuki kamar hotel, menjatuhkan seorang pria, lalu memborgolnya. Otoritas Rusia menyatakan jurnalis itu kemudian dibawa ke Moskow untuk proses hukum.

Tanggapan Rusia dan Jepang

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menanggapi kasus tersebut sebagai dugaan penggunaan koresponden asing untuk mengumpulkan informasi keamanan.

"Upaya Tokyo untuk memanfaatkan koresponden mereka yang berada di Rusia, yang berstatus sebagai jurnalis asing, guna mengumpulkan informasi dengan tujuan melemahkan keamanan negara kami adalah hal yang disayangkan," ujar Zakharova.

Zakharova juga menyebut Imai sebagai bagian dari kasus yang berkaitan dengan aktivitas intelijen Jepang menurut tuduhan Moskow. "Melakukan kegiatan spionase di wilayah Rusia," ujarnya.

Pemerintah Jepang meminta informasi mengenai penahanan tersebut dan meminta Rusia menjamin perlakuan terhadap warga negaranya.

Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan kedutaan di Moskow dan konsulat di Yuzhno-Sakhalinsk telah mengajukan permintaan resmi.

"Kami sedang mencari informasi untuk memastikan apakah fakta-faktanya memang seperti yang disampaikan dan berupaya mengetahui situasi sebenarnya.

Kami juga telah meminta agar pertimbangan kemanusiaan diberikan serta agar yang bersangkutan diperlakukan secara adil dan tidak memihak," ujar Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi.

Surat kabar Hokkaido Shimbun menyatakan telah mengetahui pengumuman otoritas Rusia dan masih mengonfirmasi rincian penangkapan tersebut.

"Menjamin keselamatan jurnalis adalah prioritas utama kami, dan kami menanggapi hal tersebut sesuai dengan prioritas," ujar Hokkaido Shimbun.

Hubungan Rusia dan Jepang telah lama tegang akibat dukungan Tokyo terhadap Ukraina serta sengketa Kepulauan Kuril.

Rusia menguasai kepulauan tersebut sejak akhir Perang Dunia II setelah direbut Uni Soviet.

FSB juga menyebut informasi yang dikumpulkan Imai akan diserahkan kepada badan intelijen Jepang untuk digunakan melawan keamanan Rusia.

"Melawan keamanan Federasi Rusia," ujar FSB.

Kasus ini menambah daftar penahanan warga negara asing oleh Rusia atas tuduhan bekerja untuk badan intelijen.

Pada 2023, jurnalis AS Evan Gershkovich juga ditangkap atas tuduhan spionase sebelum dibebaskan melalui pertukaran tahanan pada 2024.

Zakharova mengatakan penahanan Imai dapat memengaruhi hubungan Moskow dan Tokyo yang sudah memburuk akibat berbagai perselisihan. "Akan menjadi faktor tambahan yang memperburuk suasana dalam hubungan Rusia-Jepang," ujarnya.

"Kami sekali lagi mendesak Tokyo untuk meninjau kembali dan mengubah pendekatannya dengan meninggalkan langkah-langkah bermusuhan terhadap Rusia," ujar Maria Zakharova.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru