Kelompok Houthi yang didukung Iran menghantam markas perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Aramco, dalam serangan semalam.
Dua pejabat regional menyatakan serangan itu merusak kantor CEO perusahaan serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Serangan berlangsung di Kota Dhahran, Arab Saudi bagian timur, dan disebut sebagai demonstrasi terbaru kemampuan Houthi menargetkan sasaran berprofil tinggi.
Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut. Menurut para pejabat, tiga lantai teratas gedung mengalami kerusakan.
Kedua pejabat berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang membahas persoalan itu kepada media.
Houthi sebelumnya memperingatkan bahwa mereka menargetkan Dhahran dengan rudal balistik.
Pada Rabu malam, penyiar yang dikelola Houthi, al-Masirah, melaporkan serangan di ibu kota Sanaa dan menuding Arab Saudi sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Koalisi pimpinan Saudi belum memberikan komentar atas serangan-serangan tersebut.
Pemandangan asap yang membubung dari sejumlah fasilitas paling sensitif Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir membuat kawasan dan pasar global gelisah.
Situasi ini juga meningkatkan pertanyaan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyatakan sedang mengevaluasi apakah AS perlu bergabung dengan serangan Saudi terhadap Houthi dalam front terbaru perang Iran itu.
Kementerian Energi Saudi melaporkan adanya "kebakaran terbatas" di gedung Aramco pada Selasa malam.
Aramco tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Pada Rabu, otoritas pertahanan sipil Saudi di ibu kota Riyadh menyatakan serpihan dari serangan yang dicegat menyebabkan satu orang terluka.
Kantor berita negara SPA menerbitkan gambar yang menunjukkan bangunan rusak dan sebuah kendaraan dengan benda silindris besar, yang tampak bagian dari rudal, tersangkut di kapnya.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat dua drone Houthi, empat rudal jelajah, dan satu rudal balistik yang menargetkan Riyadh.
Koalisi juga mencegat satu rudal balistik yang menargetkan Dhahran serta satu rudal jelajah yang menargetkan Al-Kharj, kota militer dan industri penting.
Peringatan akan rudal yang masuk juga dibunyikan di sekitar Riyadh, meski perinciannya belum segera jelas.
Houthi Sebut Serangan sebagai Balasan
Houthi menyebut serangan-serangan itu sebagai balasan atas "agresi Saudi yang berkhianat" terhadap Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak, dan sejumlah wilayah lain.
Kerajaan Arab Saudi mendukung kekuatan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam ofensif militer besar yang diluncurkan sekitar satu setengah minggu lalu.
Kementerian Kesehatan yang dikelola pemberontak melaporkan dua orang tewas dalam serangan di Yaman pada Selasa dan menuding Saudi sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Houthi berulang kali menargetkan bandara, fasilitas militer, dan infrastruktur minyak Saudi.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh telah menjadi sasaran beberapa kali dalam sepekan terakhir.
Serangan-serangan itu menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya, serta sangat memengaruhi penerbangan di seluruh kerajaan.
Houthi, yang terlatih oleh bertahun-tahun perang saudara, muncul sebagai proksi bersenjata Iran yang paling efektif saat ini, tetapi para ahli menilai mereka juga memiliki agenda sendiri.
Apa pun motifnya, mereka memberikan tekanan yang meningkat pada sekutu utama AS.
Korban di Garis Depan Yaman Melonjak
Komite Internasional Palang Merah mencatat "lonjakan korban tempur yang belum pernah terjadi sebelumnya" di garis depan Yaman.
Lonjakan itu terutama terjadi di Kota Marib, di sepanjang pantai Laut Merah, dan di Kota Taiz yang terkepung.
Program Pangan Dunia menyatakan tidak lagi dapat menjangkau lebih dari 600.000 orang yang bergantung pada bantuan di Taiz.
Jalan utama menuju kota terbesar ketiga di Yaman itu telah ditutup di tengah serangan pemberontak, dengan bentrokan rutin di pinggiran dan pemboman pada malam hari.
Warga semakin khawatir dengan pasokan bahan bakar dan pangan yang menipis.
Seorang warga Taiz, yang berbicara dengan syarat anonim karena takut Houthi dapat merebut kota itu, mengatakan antrean panjang kini terbentuk di luar toko-toko.
Transportasi umum juga semakin langka akibat kelangkaan bahan bakar.
Dalam wawancara telepon, ia mengatakan suara ledakan keras membuatnya terjaga pada malam hari, seraya menambahkan bahwa pusat Kota Taiz belum dibombardir.
Pada Rabu, sekolah-sekolah di Taiz diperintahkan tutup selama satu bulan.
Seorang pejabat senior Houthi mengatakan kepada The Associated Press bahwa kekuatan regional dan internasional telah menghubungi mereka untuk menghentikan serangan terhadap Arab Saudi sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Mohamed al-Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, mengatakan Oman telah berupaya membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Rusia dan China juga mencoba melalui Iran.
"Kami menyambut mediasi apa pun yang mengarah pada berakhirnya perang dan blokade antara Sanaa dan Riyadh," katanya.
"Kami siap untuk mengakhiri perang dan blokade secara menyeluruh dari kedua pihak, bukan hanya gencatan senjata sementara."
Para pemberontak terus memperingatkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak.
Lebih dari 3.000 penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari bandara di seluruh Arab Saudi dibatalkan atau tercatat tidak beroperasi dalam sepekan terakhir, menurut firma analitik penerbangan Cirium.
Arab Saudi dilaporkan mulai kehabisan rudal pencegat.
Eskalasi ini menyoroti kesulitan Arab Saudi mencegat rudal dan drone Houthi.
Kerajaan itu telah mendesak sekutu seperti Amerika Serikat untuk memberikan dukungan militer lebih besar.
Para pejabat regional mengatakan Arab Saudi, pembeli senjata AS terbesar di dunia, mulai kehabisan pencegat.
Saudi berupaya menghentikan serangan harian di wilayah yang luasnya sekitar tiga kali lipat Texas.
Para ahli menilai mencegat semua rudal dan drone adalah hal yang mustahil.
Houthi memiliki gudang senjata besar yang mampu mencapai target lebih dari 1.000 mil (1.600 kilometer) jauhnya, dengan sebagian hulu ledak dapat mengubah arah di tengah penerbangan.
Koalisi pimpinan Saudi juga menyerang target minyak.
Pada Rabu sebelumnya, Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi menyatakan dua orang tewas dalam serangan udara pada Selasa di fasilitas minyak dekat Pelabuhan Ras Isa, Provinsi Hodeida.
Koalisi menyerang fasilitas minyak lain di Sanaa.
Penargetan fasilitas penyimpanan bahan bakar di wilayah yang dikuasai Houthi menandai fase baru, kata Ahmed Nagi, analis senior Yaman di International Crisis Group, sebuah lembaga pemikir.
Ia mengatakan dalam perang atrisi, para pemberontak bisa berisiko kehilangan sebagian besar kapasitas militer mereka.
"Houthi bertaruh pada tekanan, sementara Saudi bertaruh pada waktu," kata Nagi.
Pertempuran itu menghidupkan kembali perang saudara Yaman setelah empat tahun relatif tenang.
"Ada ketakutan besar," kata seorang warga Sanaa, Umm Shadi, setelah serangan pimpinan Saudi di sana pada Selasa, seraya menambahkan bahwa warga sebagian besar tetap tinggal di rumah.
Seorang staf Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ditahan pemberontak telah dibebaskan, kata utusan khusus PBB untuk Yaman pada Rabu.
Sami al-Kalabi, yang ditahan pada Juni 2024, telah dibebaskan, kata Hans Grundberg.
Pekan lalu, Program Pangan Dunia mengumumkan pembebasan salah satu stafnya.
Houthi masih menahan 71 pekerja PBB yang ditahan secara sewenang-wenang selama beberapa tahun terakhir.
Pekerja kemanusiaan sering ditahan berbulan-bulan tanpa dakwaan, dituduh sebagai mata-mata untuk Barat atau Israel, tuduhan yang dibantah keluarga mereka.