unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Bank Mandiri Hadapi Risiko Kredit Pembiayaan Akuisisi Bayan Resources
News

Bank Mandiri Hadapi Risiko Kredit Pembiayaan Akuisisi Bayan Resources

Ilustrasi analisis risiko kredit Bank Mandiri terkait pembiayaan Jhonlin untuk akuisisi Bayan Resources
Bank Mandiri Hadapi Risiko Kredit Pembiayaan Akuisisi Bayan Resources
A A Ukuran Teks16px

Mirae Asset Sekuritas menyoroti risiko kredit PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkait pembiayaan kepada kelompok usaha Jhonlin untuk akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Dalam analisis yang diterbitkan Rabu (14/10/2026), Mirae Asset menilai kemampuan pembayaran utang, kebijakan dividen, dan struktur jaminan sebagai faktor penting.

Pembiayaan yang menjadi perhatian diperkirakan mencapai Rp 26,1 triliun atau sekitar US$ 1,45 miliar dan sepenuhnya bersumber dari utang.

Sebagai jaminan, sejumlah saham perusahaan terkait kelompok usaha Haji Isam, termasuk PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), digadaikan kepada Bank Mandiri.

Analisis Kelayakan Kredit dan Arus Kas

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin menekankan kelayakan kredit harus bertumpu pada kapasitas debitur menghasilkan arus kas, bukan hanya nilai aset jaminan.

Menurut Nurkholis, PT Jhonlin Baratama menguasai 30,25% saham BYAN setelah transaksi.

Berdasarkan riwayat dividen tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan US$ 960 juta per tahun, termasuk US$ 500 juta untuk tahun buku 2025.

Dengan porsi kepemilikan tersebut, Jhonlin secara teoritis berpotensi memperoleh dividen rata-rata sekitar US$ 290 juta per tahun.

Nilai itu setara imbal hasil dividen sekitar 20% terhadap asumsi pembiayaan, jauh di atas asumsi biaya pinjaman 8%.

Nurkholis memperkirakan beban bunga tahunan sekitar US$ 116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh rata-rata dividen BYAN lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025.

Dengan skema cicilan tujuh hingga delapan tahun, kemampuan pembayaran pokok tetap bergantung pada realisasi dividen.

"Sementara itu, cicilan tahunan sebesar US$ 252–US$ 279 juta dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun," ujar Nurkholis.

Mirae Asset menilai ruang perlindungan pembayaran utang masih terbatas apabila dividen lebih rendah dari asumsi historis.

Menggunakan rata-rata dividen BYAN 2023–2025 sebesar US$ 667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan hanya 0,72–0,80 kali.

Dalam skenario itu, BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar US$ 830 juta per tahun agar DSCR melampaui 1 kali.

Risiko lain berasal dari kebijakan dividen.

Jhonlin tidak menerima dividen untuk tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagiannya, sementara keluarga Low masih menguasai sekitar 32% saham BYAN.

Nurkholis juga menyoroti potensi pengaruh kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi kahar terhadap operasional dan kemampuan menghasilkan dividen.

"Serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang," ujar Nurkholis.

Dari sisi operasional, BYAN membukukan laba bersih US$ 410 juta pada semester pertama 2026, tumbuh 17% secara tahunan.

Menurut catatan Nurkholis, kas perusahaan pada periode tersebut mencapai US$ 934 juta.

Struktur pembiayaan berupa gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen, dan cadangan pembayaran utang dinilai dapat membantu mengurangi risiko kredit.

Namun, kemampuan pelunasan tetap bergantung pada arus kas dan siklus bisnis batu bara.

Fundamental BMRI dan Gadai Saham

Mirae Asset tetap bersikap bearish terhadap saham BMRI dengan mempertimbangkan sejumlah indikator fundamental.

Rasio loan-to-deposit ratio (LDR) bank tercatat 94,4%, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) bank-only mencapai 17,5%.

Mirae Asset juga menyoroti kenaikan cost of credit (CoC) ketika rasio loan loss reserve (LLR) berada di sekitar 2,4%, yang disebut level terendah sepanjang sejarah.

"Dengan demikian, investor perlu mencermati risiko pembagian dividen BYAN, struktur pembiayaan, dan fundamental BMRI di tengah volatilitas pasar saham," tulis Nurkholis.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, JARR melaporkan PT Eshan Agro Sentosa, pemegang saham pengendali, menggadaikan 7.997.556.204 saham atau 100% dari total kepemilikannya kepada Bank Mandiri.

Akta gadai saham ditandatangani 30 September 2026 dan dilaporkan kepada bursa pada 7 Oktober 2026.

Direktur Utama JARR Indra Irawan menjelaskan tujuan pengikatan jaminan tersebut dalam dokumen keterbukaan informasi.

"Penandatanganan akta gadai saham milik PT Eshan Agro Sentosa, yang merupakan pengendali dari perseroan dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas Kredit yang diperoleh perseroan dari Bank Mandiri," ungkap Indra Irawan.

Secara terpisah, PGUN melaporkan penggadaian seluruh saham milik tiga pemegang sahamnya pada 30 September 2026.

Saham yang dijaminkan terdiri atas 2,20 miliar lembar milik PT Araya Agro Lestari, 2,19 miliar lembar milik PT Citra Agro Raya, dan 900 juta lembar milik PT Baramega Citra Mulia Persada.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru