SURABAYAINSIDE.COM — Kemampuan menulis ilmiah para dosen menjadi fondasi penting bagi kampus yang ingin memberi dampak nyata. Publikasi yang berkualitas tidak hanya mendongkrak skor SINTA dan akreditasi institusi, tetapi juga mengangkat kinerja riset secara keseluruhan. Untuk itu, perguruan tinggi perlu strategi yang sistematis agar budaya menulis tumbuh subur di kalangan dosen.
Strategi pertama adalah menyelenggarakan workshop atau pelatihan menulis yang terstruktur dengan pendampingan mentor ahli, termasuk menjalin kolaborasi dengan penerbit eksternal. Salah satu contoh praktik yang disebut adalah kerja sama dengan Penerbit Deepublish dalam pembinaan penulisan.
Kedua, institusi perlu mengalokasikan dana khusus untuk riset dan publikasi agar dosen tidak terbebani biaya saat menyiapkan naskah. Ketiga, sediakan layanan dan fasilitas publikasi yang memadai, mulai dari bantuan penyusunan naskah, proofreading dan editing, akses ke database jurnal bereputasi, referensi perpustakaan, aplikasi manajemen referensi, hingga layanan cek plagiarisme.
Keempat, bangun budaya menulis yang suportif lewat komunitas menulis dan forum diskusi antar sejawat sehingga dosen saling memotivasi. Kelima, fasilitasi kolaborasi penulisan bersama (co-writing) antar dosen, program studi, fakultas, bahkan antar institusi untuk memperkaya sudut pandang riset.
Keenam, berikan edukasi menyeluruh tentang proses publikasi, termasuk cara memilih jurnal yang tepat, etika publikasi, penerbitan buku, serta pemenuhan syarat administratif. Ketujuh, siapkan penghargaan dan insentif yang jelas, seperti sertifikat, bonus publikasi, dan bentuk rekognisi lainnya bagi dosen yang produktif menulis.
Dengan tujuh langkah tersebut, kampus tidak sekadar mengejar angka publikasi, melainkan membangun ekosistem akademik yang sehat dan berkelanjutan. Pada akhirnya, dosen yang terbiasa menulis akan menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat luas.
