Michael Carrick menegaskan prioritasnya adalah membangun kembali Manchester United dan memperbaiki performa tim, bukan menetapkan tenggat khusus untuk meraih gelar Liga Inggris.
Pendekatan itu muncul setelah CEO klub, Omar Berrada, menargetkan Manchester United kembali menjuarai Premier League dalam dua musim ke depan.
Carrick menilai target tersebut harus diperjuangkan lewat proses berkelanjutan, bukan sekadar tenggat yang dipasang di atas kertas.
Tantangan Performa yang Masih Besar
Tekanan terhadap Carrick tidak lepas dari catatan hasil tim musim ini. Manchester United baru mengumpulkan dua kemenangan dari sembilan pertandingan pertama di semua kompetisi.
Tim juga belum meraih kemenangan dalam empat laga terakhir Premier League. Setelah enam pertandingan liga, Manchester United sudah tertinggal 12 poin.
Situasi itu membuat upaya memperbaiki konsistensi permainan menjadi bagian penting dari perjalanan klub menuju persaingan papan atas.
Gelar Liga Inggris terakhir Manchester United diraih pada musim 2012-2013, ketika Sir Alex Ferguson masih memimpin tim. Carrick saat itu merupakan bagian dari skuad yang mencapai prestasi tersebut.
Dalam 13 tahun setelah Ferguson meninggalkan klub, Manchester United telah ditangani tujuh manajer. Pergantian kepemimpinan itu belum membuat klub mampu mempertahankan keterlibatan secara konsisten dalam persaingan gelar.
Omar Berrada sebelumnya memperkenalkan sasaran jangka panjang melalui program Project 150.
Inisiatif itu dirancang untuk membawa Manchester United kembali menjuarai liga pada 2028, bertepatan dengan peringatan 150 tahun berdirinya klub.
Berrada kembali menyampaikan harapan itu pada Juni lalu. Carrick sendiri tidak menetapkan tenggat waktu tersendiri untuk memenuhi target tersebut.
Menurut Carrick, saat berada di klub sepak bola seperti Manchester United, tujuannya selalu untuk menang. Ia menyatakan tidak ada kerangka waktu khusus dan tim ingin mencapainya sesegera mungkin.
Ia menyadari bahwa memenangkan Liga Primer merupakan langkah yang sangat besar, tetapi hal itu harus terus diupayakan dan diperjuangkan.
Carrick menilai keberhasilan kembali ke puncak membutuhkan kerja berkelanjutan.
Ia memahami bahwa Manchester United harus membentuk tim yang mampu bersaing pada tingkat yang sudah lama tidak mereka capai.
Ia juga mengungkapkan kepuasannya menjalankan tugas sebagai manajer Manchester United. Baginya, tanggung jawab tersebut memberi kesempatan mendorong perubahan sekaligus memperjuangkan keberhasilan klub.
Carrick menyebut posisi itu sebagai pekerjaan terbaik yang bisa ia miliki. Ia merasa beruntung memikul tanggung jawab nyata, dengan dorongan kuat untuk membawa perubahan dan meraih kesuksesan.
Ia mengaku menikmati situasi ketika tim menghadapi tantangan dan harus mencari jalan keluarnya.
Laga Melawan Leeds United
Tantangan berikutnya bagi Manchester United adalah pertandingan tandang melawan Leeds United di Elland Road pada Minggu.
Laga itu menjadi kesempatan bagi tim Carrick memperbaiki hasil di tengah tekanan akibat performa yang belum konsisten.
Leeds United diperkirakan tampil dengan semangat tinggi di hadapan pendukung sendiri. Tim asuhan Daniel Farke itu hanya mengalami enam kekalahan dalam 31 pertandingan liga terakhir.
Carrick tidak menganggap pertandingan melawan Leeds sebagai laga yang paling ingin dihindarinya. Ia justru menyatakan antusiasmenya menghadapi pertandingan dan melanjutkan upaya membawa klub berkembang.
Di tengah tekanan terhadap hasil pertandingan, Carrick mengaku tidak ingin larut dalam pandangan negatif. Ia memilih mengarahkan perhatian pada tantangan yang perlu diselesaikan bersama tim.
Ia menegaskan bahwa memahami keadaan tim saat ini merupakan bagian dari pekerjaannya. Namun, kesadaran terhadap kondisi tersebut tidak berarti dirinya harus terjebak dalam penilaian pesimistis.
Bagi Carrick, prioritas utama tetap mencakup kebutuhan klub, persiapan untuk memenangkan pertandingan, dan kemampuan pemain menunjukkan performa terbaik.
Ia juga meyakini bahwa Manchester United tidak terlalu jauh dari level permainan yang ingin dicapai.