Ekonomi Indonesia membukukan pertumbuhan 5,45 persen pada semester I-2026. Capaian itu muncul saat perekonomian global masih diliputi ketidakpastian dan tekanan geopolitik.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan pertumbuhan tahunan 5,61 persen pada kuartal I-2026. Angka itu kemudian melandai menjadi 5,29 persen pada kuartal II-2026.
Sebagai pembanding, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menilai kinerja semester I mencerminkan ketahanan ekonomi nasional.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam keterangan tertulis pada Kamis (22/10/2026). Menurutnya, pertumbuhan domestik tetap terjaga meski perekonomian dunia menghadapi berbagai tekanan.
"Di tengah tekanan global yang tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5 persen," ujar Haryo Limanseto.
Ia menambahkan bahwa fondasi ekonomi domestik dinilai solid dan kebijakan pemerintah berjalan efektif.
IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1 persen pada 2026, lebih rendah dari 3,3 persen pada 2025.
IMF juga memproyeksikan inflasi global 4,7 persen pada 2026. Angka itu diperkirakan turun menjadi 4,1 persen pada 2027.
Kemiskinan dan Pengangguran Menurun
Di dalam negeri, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang.
Jumlah itu berkurang 430.000 orang dibandingkan September 2025, dengan tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang.
Penyerapan tenaga kerja bertambah 522.000 orang sepanjang Februari-Mei 2026, sementara pengangguran berkurang 24.000 orang menjadi 7,22 juta orang.
Tingkat Pengangguran Terbuka tercatat 4,65 persen. Kementerian juga melaporkan peningkatan porsi pekerja formal sebagai perkembangan pasar tenaga kerja.
Haryo menyampaikan bahwa Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya pertumbuhan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
"Menko Airlangga menyampaikan pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan," ujarnya.
Pada Semester I ini, menurut Haryo, keduanya terjadi bersamaan. Lapangan kerja yang tercipta juga dinilai semakin berkualitas karena porsi pekerja formal meningkat.
Dari sisi penanaman modal, realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun.
Nilai itu meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan setara 49,5 persen dari target investasi tahunan.
Investasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing Rp 507,6 triliun atau 50,2 persen. Penanaman modal dalam negeri tercatat Rp 502,9 triliun atau 49,8 persen.
Investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp 507,8 triliun, setara 50,2 persen dari total investasi nasional.
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 3,55 miliar dollar AS pada Agustus 2026. Secara kumulatif, surplus Januari-Agustus 2026 mencapai 7,25 miliar dollar AS.
Surplus perdagangan nonmigas sebesar 28,54 miliar dollar AS, sedangkan perdagangan migas mencatat defisit 21,29 miliar dollar AS.
Ekspor Indonesia selama Januari-Agustus 2026 mencapai 193,64 miliar dollar AS, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Inflasi tahunan pada September 2026 tercatat 3,28 persen.
Indeks Manajer Pembelian manufaktur Indonesia berada di zona ekspansi pada level 52,4. Indeks Keyakinan Konsumen meningkat menjadi 118,1.
Pemerintah menyatakan akan memperkuat hilirisasi, pengembangan energi baru terbarukan, serta reformasi regulasi dan perizinan usaha.
