unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Konser Gratis di Depan Monumen Washington, Turnstile Kumpulkan Rp4,63 Miliar untuk Palestina, Sudan, dan Lebanon
Hiburan

Konser Gratis di Depan Monumen Washington, Turnstile Kumpulkan Rp4,63 Miliar untuk Palestina, Sudan, dan Lebanon

Konser Gratis di Depan Monumen Washington, Turnstile Kumpulkan Rp4,63 Miliar untuk Palestina, Sudan, dan Lebanon
Vokalis Turnstile Brendan Yates saat tampil (dok. arsip). • Per Ole Hagen/Redferns via Getty Images
A A Ukuran Teks16px

SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Sekitar 60.000 orang memadati pelataran Washington Monument, Washington, D.C., Sabtu (24/10/2026), bukan untuk konser berbayar, melainkan konser amal gratis band hardcore Turnstile. Hasilnya: donasi lebih dari USD256 ribu — sekitar Rp4,63 miliar — terkumpul lewat laman LaunchGood untuk bantuan kemanusiaan di Palestina, Sudan, dan Lebanon.

Penutup Tur Never Enough

Digelar bersama Human Concern International, konser solidaritas ini sekaligus menutup rangkaian tur Amerika Utara untuk album terbaru Turnstile, Never Enough. Dana yang terkumpul disalurkan melalui Human Concern International untuk mendukung upaya bantuan kemanusiaan di ketiga wilayah tersebut. Penampilan band asal Baltimore ini tetap bernuansa hardcore: stage dive dan mosh pit mewarnai lautan penonton di kawasan monumen.

Pesan dari Brendan Yates

Sebagaimana dikutip Pitchfork, vokalis Brendan Yates berterima kasih kepada para penggemar yang mendukung misi kemanusiaan tersebut. Menurutnya, skena yang membesarkan Turnstile mengajarkan bahwa musik juga mencerminkan orang-orang, dunia, penderitaan, dan kebahagiaan di sekitar penciptanya. Ia lalu mengajak penonton menyuarakan dukungan bagi masyarakat terdampak krisis kemanusiaan hingga terdengar sampai Gedung Putih, dengan seruan pembebasan bagi Palestina, Sudan, dan Lebanon.

Konsisten Bersuara

Turnstile memang bukan kali ini saja menyoroti isu kemanusiaan. Kepada NME saat menghadiri BRIT Awards 2026, mereka menyebut musisi penting sebagai cermin situasi sosial dan politik dunia, bahwa empati dan kesadaran dibutuhkan ketika sisi kemanusiaan seseorang banyak dikikis, dan bahwa musik bisa menjadi ruang bersuara bagi persoalan yang sering luput dari perhatian.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru