Ketua Umum PSSI Erick Thohir memberikan apresiasi terhadap film dokumenter The Longest Wait.
Film ini diputar perdana di CGV Grand Indonesia, Jakarta, dan menyoroti perjuangan para pemain Timnas Indonesia.
Menurut Erick, film tersebut menggambarkan pengorbanan pemain di dalam maupun di luar lapangan.
Pesan Kemanusiaan di Balik Film
Erick menilai para pemain membutuhkan dukungan yang memadai untuk menghadapi tuntutan sebagai atlet sekaligus menjalani kehidupan pribadi.
Ia menyoroti pesan film mengenai sisi manusiawi pemain yang sering tidak terlihat oleh publik.
"Ini pesan dari pemain, bagaimana mereka juga manusia biasa yang perlu sistem pendukung," ujar Erick Thohir.
Erick juga menyoroti beragam pengorbanan yang dilakukan para pemain demi tujuan bersama, yakni membela tim nasional.
"Dan pengorbanan mereka berbeda-beda satu dan lainnya, tetapi tujuannya sama, yaitu memang mereka bangga menjadi bagian perjalanan kita sebagai bangsa Indonesia, tentu dalam persepakbolaan," ungkapnya.
Dukungan Keluarga dan Pemain Diaspora
Film ini turut memperlihatkan dukungan keluarga Beckham Putra dalam perjalanan sang pemain menuju tim nasional.
Kisah keluarga Yakob Sayuri juga mendapat perhatian, terutama saat menghadapi tekanan setelah Timnas Indonesia kalah pada ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Erick menilai ketegaran keluarga menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan yang menyertai karier pemain.
Ia secara khusus menyoroti dukungan istri Yakob setelah sang pemain melakukan kesalahan.
"Ya, kita bisa lihat bagaimana pengorbanan Yakob, ya, dengan tekanannya setelah membuat kesalahan. Istrinya teguh juga, ternyata luar biasa," ujar Erick.
Erick mengaku baru memahami sejumlah pengorbanan yang menyertai proses Beckham menjadi pemain tim nasional setelah menyaksikan film dokumenter itu.
"Saya juga tidak menyangka bagaimana proses Beckham menjadi pemain tim nasional, pengorbanan daripada orang tuanya luar biasa," kata Erick.
Selain Beckham dan Yakob, Erick menyebut kontribusi Ridho dan Marselino sebagai bagian penting dari perjalanan sepak bola nasional.
Pengorbanan pemain diaspora juga menjadi bagian cerita, termasuk Jay, Kevin, dan Verdonk yang harus membagi waktu antara klub dan tim nasional.
Menurut Erick, jadwal pertandingan, perjalanan jarak jauh, dan latihan menuntut komitmen besar dari para pemain.
"Belum lagi pengorbanan para pemain kita yang bermain di luar negeri, seperti Jay, seperti Kevin, Verdonk, semua yang harus berjibaku dengan keterbatasan waktu," tutur Erick.
Erick mengapresiasi kesungguhan mereka dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.
"Mereka main, pergi, pulang, ya, latihan, main lagi, dan ini sebuah komitmen yang tidak mudah.
Tetapi mereka bisa menjalankan secara sungguh-sungguh dan mereka merasa bangga menjadi bagian dari bangsa kita," ucapnya.
Erick juga mengaitkan pemutaran film dengan peringatan Sumpah Pemuda yang mengangkat semangat persatuan bangsa dan bahasa.
"Ya, saya apresiasi dengan keteguhan mereka, dengan pengorbanan mereka, mau menjadi bagian sejarah sepak bola Indonesia.
Apalagi diluncurkan di hari Sumpah Pemuda, yang kita bicara satu bangsa, satu bahasa," imbuh Erick.
Menurut Erick, perjalanan yang ditampilkan dalam film mencakup pengalaman menyedihkan maupun membahagiakan.
"Ini sebuah hal yang sangat positif saya rasa untuk kita semua belajar dalam sebuah proses panjang.
Tentu proses ini kita bisa lihat, ada kisah sedih, ada kisah tawa," kata Erick.
Ia menegaskan pentingnya menghadapi berbagai pengalaman secara bersama-sama dan mempertahankan kontribusi bagi Indonesia.
Film The Longest Wait menjadi gambaran perjalanan pemain yang berjuang membela Timnas Indonesia di tengah tantangan profesional dan pribadi.
"Ya itulah bagaimana kita sebagai bangsa bisa menghadapi rasa pahit, rasa senang, secara bersama dan terus bisa memberikan kontribusi yang terbaik hari ini dan ke depan," terang Erick.
