Konferensi Church Growth International (CGI) ke-50 digelar di Yoido Full Gospel Church dan Jamsil Student Gymnasium, Seoul, pada 28-31 Oktober.
Ketua CGI Lee Young-hoon menilai pertemuan itu akan menjadi katalis baru bagi kebangkitan gereja di seluruh dunia.
Lee, yang juga menjabat senior pastor Yoido Full Gospel Church, menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan GoodTV, penyiar Injil Kristen.
CGI berdiri pada November 1976 untuk mendorong pertumbuhan gereja dunia melalui model teladan seperti Yoido Full Gospel Church.
Sejak itu, CGI tumbuh pesat seiring partisipasi aktif para pastor dan pemimpin gereja global.
Warisan 50 Tahun dan Arah Konferensi
Lee menyebut CGI telah memberi dampak besar bagi gereja dunia selama 50 tahun terakhir.
Menurut dia, pendiri CGI, mendiang Rev. Cho Yong-gi, berkeliling dunia memimpin seminar pertumbuhan gereja.
Para pemimpin gereja di berbagai negara lalu menyatakan keinginan belajar langsung di Korea.
Konferensi CGI pertama berlangsung pada 1976 dan sejak itu digelar setiap dua tahun di Korea serta sejumlah negara lain.
Lee menyebut pertemuan tahun ini berharga untuk menyiapkan 50 tahun berikutnya.
Ia menuturkan Cho memulai gerakan keagamaan di gereja dari denominasi kecil.
Gerakan itu menarik perhatian dunia dan berkembang, sementara CGI didirikan dengan cita-cita tumbuh melalui solidaritas.
Menurut Lee, konferensi CGI menjadi tempat berbagi berkat spiritual yang diterima Korea dan menautkan prinsip alkitabiah bagi para pastor.
Ia menilai salah satu kontribusi besar Cho adalah memperkenalkan gerakan doa gereja Korea kepada dunia.
Di balik kebangkitan itu, kata Lee, terdapat gerakan doa yang kuat, pengalaman Roh Kudus, iman yang positif, dan gerakan misi.
Lee lahir dalam keluarga Presbiterian generasi keempat dan memimpin Yoido Full Gospel Church sejak 2008.
Ia diangkat sebagai ketua dewan direksi CGI pada 2022.
Saat ditanya kunci kebangkitan, Lee menyebut frasa “kembali ke dasar”.
Menurut dia, prinsip alkitabiah harus diterapkan dengan tepat kepada generasi saat ini.
Ia meyakini CGI berperan menyebarkan Roh Kudus ke seluruh dunia.
7.000 Peserta dan Seruan Persatuan Gereja Korea
Konferensi CGI ke-50 bertema “The Holy Spirit Across Generations” diperkirakan dihadiri sekitar 7.000 orang, termasuk 3.000 peserta asing.
Lee menekankan pentingnya pembaruan dan pewarisan kepada generasi berikutnya.
Ia mencontohkan gereja di Eropa yang menjadi “kuburan spiritual” karena sejarah kebangkitan mereka tidak diwariskan dengan baik.
CGI, katanya, bertugas meneruskan pengetahuan itu agar generasi berikutnya dapat mengembangkan sesuai zamannya.
Menanggapi anggapan bahwa gereja Korea telah melewati masa kejayaan, Lee menyinggung diskusi soal penyelamatan ekosistem di dunia teologi pada 1980-an.
Ia menyebut peristiwa tragis seperti banjir di Nepal terjadi karena kurangnya perhatian terhadap ekologi.
Lee berharap gereja turut berbagi kepedulian atas persoalan tersebut melalui CGI.
Ia juga menyoroti perpecahan gereja Korea, dengan sekitar 300 denominasi terdaftar di kementerian budaya Korea.
Sebanyak 250 di antaranya memakai nama Korean Presbyterian Church.
Menurut Lee, perpecahan, konflik, dan konfrontasi tanpa akhir harus diatasi melalui pertobatan dan refleksi.
Ia menilai persoalan itu berkaitan erat dengan isu reunifikasi Korea.
Lee mengakui gereja Korea cenderung berfokus pada keselamatan individu dan kurang memberi perhatian pada keselamatan sosial serta reunifikasi.
Ia mengajak gereja mengingat kembali peran pemimpin Kristen pada masa pencerahan Korea.
Menurut dia, gereja perlu memulihkan cinta pertama agar seluruh denominasi menjadi komunitas Kristen yang bersatu.
Lee menyebut kebangkitan sedang terbuka di seluruh dunia, sementara Korea belum mengejar tren global itu.
Ia mencontohkan kebangkitan besar di Amerika Latin, tempat hampir 80 persen umat Kristen berada di gereja yang dipenuhi Roh Kudus Pentakosta.
Di Asia, kata Lee, sudah ada gereja dengan lebih dari 400.000 jemaat di India.
Ia berharap konferensi CGI kembali mengubah dunia keagamaan dan gereja Korea.
Lee menutup wawancara dengan mengundang gereja, umat, dan pastor untuk hadir di Korea pada pekan terakhir Oktober.
