unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › 5 Makhluk Horor Korea: Dari Gumiho hingga Eoduksini
Lifestyle

5 Makhluk Horor Korea: Dari Gumiho hingga Eoduksini

Ilustrasi makhluk horor dalam cerita rakyat Korea seperti gumiho dan dokkaebi
5 Makhluk Horor Korea: Dari Gumiho hingga Eoduksini
A A Ukuran Teks16px

Halloween tinggal menghitung hari.

Meski Korea tidak merayakannya dengan jack-o'-lantern dan trick-or-treat, hawa malam yang dingin dan bisikan angin musim gugur seolah menyiapkan suasana ketika batas dunia manusia dan arwah menipis.

Bagi yang ingin merayakan musim seram, menebak-nebak bentuk di sudut kamar, atau mencari ide kostum unik, lima makhluk horor Korea berikut bisa jadi bahan renungan malam.

Gumiho dan Dokkaebi

Gumiho, rubah berekor sembilan, termasuk makhluk paling dikenal.

Popularitasnya melonjak setelah muncul dalam gim League of Legends lewat karakter Ahri, perempuan rubah memikat yang menyerap jiwa.

Dalam drama dan webtoon, gumiho sering tampil sebagai perempuan cantik dan menjadi tokoh romantis.

Namun cerita rakyat aslinya menggambarkannya sebagai roh rubah kuno yang jahat, lapar seperti hewan, dan kejam tanpa ampun.

Kisah Yeou-nui atau Fox Sister memperlihatkan kebengisannya. Sebuah keluarga yang mendambakan anak perempuan menemukan bayi di depan pintu, padahal itu rubah tua menyamar.

Saat tumbuh besar, ternak mulai mati misterius, lalu manusia. Rubah itu mencabut hati korbannya saat tidur dan memakannya bulat-bulat.

Cerita berakhir dengan anak lelaki keluarga yang diusir karena menuduh si rubah, lalu kembali untuk membunuhnya.

Dokkaebi digambarkan sebagai roh bertanduk, tinggi, kuat, dan membawa pentungan ajaib yang bisa mengabulkan permintaan. Mereka muncul di banyak cerita rakyat, biasanya sebagai sosok berubah-ubah dan kadang pendendam.

Catatan tertulis pertama tentang dokkaebi berasal dari tahun 1447 dalam teks Buddhis Seokbosangjeol. Meski begitu, asal-usul dan etimologinya masih belum pasti.

Kisah dokkaebi sering dimulai dengan musafir yang bertemu roh itu pada malam hari. Musafir ditantang bergulat melawan makhluk superkuat, tetapi saat fajar tiba, makhluk itu berubah menjadi sapu.

Dalam cerita lain, dokkaebi diperdaya untuk menghilangkan kutil seseorang demi mendapatkan suaranya, atau mengira suara musafir mengunyah kacang sebagai guntur.

Benda mati dipercaya bisa berjiwa dan menjadi dokkaebi, terutama sapu tua.

Kepercayaan ini memunculkan takhayul: sebagian orang menghindari menyimpan sapu usang dan pantang menyimpannya berdiri tegak.

Dokkaebi mungkin tidak seseram makhluk lain, tetapi sudah lama hidup dalam cerita rakyat Korea.

Changgwi, Mangtae Halabeom, dan Eoduksini

Changgwi adalah arwah orang yang dibunuh harimau. Setelah mati, arwah itu dipaksa melayani si harimau dan memancing manusia lain agar diburu.

Changgwi paling dikenal dari novel satir Hojil karya cendekiawan Joseon Park Ji-won.

Di sana digambarkan roh yang membantu menipu manusia agar dimakan harimau, dan makin kuat setiap kali harimau melahap korban.

Hojil adalah satire politik yang mengkritik kemunafikan kelas bangsawan yangban.

Penggambaran harimau dan changgwi mencerminkan masa ketika predator puncak itu masih berkeliaran di pegunungan Korea dan dihormati sebagai sangun, penguasa gunung.

Untuk mencegah seseorang menjadi changgwi, diadakan pemakaman khusus bagi korban harimau. Jenazah segera dikremasi dan dikubur di lokasi kematian, dengan makam khusus yang ditandai terlarang.

Changgwi kembali populer belakangan ini berkat penggambaran modern sebagai peniru suara dalam media horor.

Karakter ini menyerap elemen legenda urban seperti Jangsan-beom, makhluk peniru mirip harimau putih yang dikabarkan hidup di Gunung Jang, Busan.

Mangtae halabeom kira-kira berarti kakek dengan keranjang anyaman. Ini versi Korea dari boogeyman, monster humanoid yang disebut untuk menakuti anak-anak agar tidak nakal.

Dalam banyak versi, mangtae halabeom adalah kakek kurus tinggi dengan keranjang besar di punggungnya.

Ia menculik anak-anak yang berisik atau kasar dari rumah, memasukkan mereka ke keranjang, membawa ke sarangnya, dan bersiap memakan mereka.

Nenek penulis sumber sering bercerita tentang teman yang diculik mangtae halabeom tetapi berhasil kabur.

Keranjang itu digambarkan lebih lebar di dalam daripada di luar, gelap, dan penuh anak-anak menangis.

Asal-usul historisnya belum pasti.

Meski begitu, mangtae halabeom tetap contoh menarik dari arketipe orang tua mengerikan yang menculik anak, mungkin untuk mengajarkan bahaya orang asing.

Eoduksini atau roh kegelapan menggabungkan elemen hantu tradisional dengan trope horor modern tentang cognitohazard, sesuatu yang berbahaya saat dilihat.

Berbeda dari roh Korea lain, eoduksini berwujud massa gelap tanpa bentuk yang memakan rasa takut.

Konon ia makin tinggi dan besar saat orang yang melihatnya terus menatap dan makin takut, hingga akhirnya menelan korban bulat-bulat.

Namun eoduksini disebut tidak berdaya terhadap musafir yang sengaja mengabaikannya atau tidak merasa takut.

Eoduksini menonjol sebagai representasi rasa takut manusia itu sendiri: membengkak, tetapi lenyap saat ditantang atau diabaikan.

Menyebarkan kisah makhluk rakyat membantu menjaga semangat dan budaya yang membentuknya.

Jika ingin menakuti anak-anak agar patuh atau mencari kostum Halloween yang unik, ingat saja: hantu tertarik pada cerita tentang diri mereka sendiri.

Taburkan sedikit garam di depan pintu untuk menjauhkan mereka.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru