Nama Gus Iqdam kembali menjadi sorotan setelah potret liburannya bersama istri beredar di media sosial. Bukan hanya kebersamaan mereka yang dibicarakan, tetapi juga tas mewah yang dikenakan sang pendakwah asal Blitar itu.
Dalam potret yang beredar, Gus Iqdam terlihat mengenakan tas selempang bermotif khas dengan tulisan Fendi yang cukup mencolok. Tas itu langsung memancing rasa penasaran warganet: berapa sebenarnya harga tas tersebut, dan apakah tas itu asli atau sekadar pelengkap gaya?
Gus Iqdam, yang bernama lengkap Muhammad Iqdam Kholid, dikenal sebagai pendakwah muda asal Blitar yang ceramahnya banyak diikuti jemaah, terutama dari kalangan muda. Gaya ceramahnya yang santai dan mudah dipahami membuat namanya populer di berbagai daerah, termasuk di media sosial.
Tas Fendi yang Jadi Sorotan
Menurut sumber, tas yang dikenakan Gus Iqdam dalam potret liburan itu diduga merupakan tas Fendi. Sejumlah warganet yang menelusuri model serupa menemukan bahwa tas dengan motif dan bentuk tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp16 juta hingga Rp26 juta, tergantung model dan tempat penjualannya.
Namun, sumber menegaskan bahwa angka itu merupakan hasil penelusuran warganet terhadap model yang diduga serupa, bukan konfirmasi resmi dari Gus Iqdam maupun pihak penjual. Sampai saat ini, Gus Iqdam sendiri belum memberikan pernyataan yang mengonfirmasi merek maupun harga pasti tas tersebut.
Respons Warganet
Respons warganet terhadap potret itu beragam. Sebagian menilai wajar jika seorang pendakwah yang memiliki penghasilan dari ceramah dan usaha memiliki barang bermerek. Sebagian lain mempertanyakan gaya hidup mewah di tengah citra kesederhanaan yang kerap melekat pada pendakwah.
Meski demikian, banyak pula warganet yang mengingatkan agar tidak terlalu cepat menghakimi. Mereka menilai liburan bersama istri adalah hal yang wajar, dan harga tas yang beredar di media sosial belum tentu merupakan harga sebenarnya.
Terlepas dari perdebatan itu, potret liburan Gus Iqdam menunjukkan betapa cepatnya sebuah detail kecil, seperti tas, dapat menjadi bahan perbincangan besar di media sosial. Satu potret cukup untuk memicu pencarian harga, perdebatan gaya hidup, hingga diskusi tentang citra pendakwah di era digital.