Angin pagi di bulan November 2026 ini membawa sejuknya harapan, namun di balik itu, tersimpan realitas pahit yang tengah dihadapi oleh jutaan saudara sebangsa. Tekanan ekonomi, melonjaknya harga kebutuhan pokok, hingga ancaman bencana alam di berbagai penjuk negeri, masih menjadi bayang-bayang yang menghantui ketahanan hidup masyarakat.
Dalam kondisi yang serba mencekam ini, tidak sedikit saudara kita yang harus berjibaku, memutar otak, dan menahan lapar hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Situasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pengingat keras bagi kita semua, khususnya umat Islam, untuk segera menumbuhkan kembali empati dan kepedulian terhadap orang-orang di sekitar.
Menyongsong Khutbah Jumat 13 November 2026 dengan tema “Menumbuhkan Empati dan Kepedulian kepada Sesama di Tengah Kesulitan”, umat Islam diajak untuk merenung. Bahwa kesalehan seorang muslim sejati tidak boleh hanya berhenti pada sajadah dan rutinitas ibadah vertikal (habluminallah). Lebih dari itu, kesalehan sosial (habluminannas)—yang tercermin dari sikap peduli, kasih sayang, dan kesediaan meringankan beban orang lain—adalah ujian sesungguhnya dari keimanan kita.
Realitas Pahit: Ketika Angka Bercerita tentang Penderitaan
Empati tidak bisa tumbuh di ruang hampa. Ia harus lahir dari kesadaran akan realitas yang ada di depan mata. Saat ini, masyarakat Indonesia sedang menghadapi ujian ketahanan ekonomi yang berat.
Berdasarkan laporan Monitoring Issue of Macroeconomics & Finance Oktober 2026 dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), terdapat sejumlah tanda kerentanan ekonomi rumah tangga yang sangat mengkhawatirkan. Pada September 2026 lalu, inflasi pangan tercatat mencapai 5,03 persen secara tahunan (year-on-year).
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah representasi dari piring-piring nasi yang mulai kosong, dari ibu-ibu rumah tangga yang harus berpikir seribu kali sebelum membeli beras. Di sisi lain, INDEF juga mencatat jumlah pengangguran masih bertengger di angka 7,2 juta orang. Mirisnya, hampir enam dari sepuluh pekerja di negeri ini berada di sektor informal yang rentan terhadap guncangan ekonomi.
Senada dengan hal tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 3,23 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang utama. Data dari lembaga resmi negara ini menjadi alarm bagi kita semua: persoalan perut dan harga kebutuhan sehari-hari masih menjadi masalah serius yang butuh penyelesaian kolektif, salah satunya melalui jalur kepedulian sosial.
Boleh jadi, tepat di sebelah pagar rumah kita, ada tetangga yang sedang malu-malu untuk meminta bantuan karena kesulitan membeli beras. Ada keluarga yang terpaksa mengurangi porsi makan anak-anaknya karena penghasilan harian yang tidak menentu. Bahkan, mungkin ada saudara kita yang terpaksa mengonsumsi makanan yang tidak lagi layak hanya karena keterbatasan ekonomi yang mencekik.
Fondasi Teologis: Tolong-Menolong sebagai Nyawa Peradaban
Di tengah himpitan keadaan seperti ini, Islam hadir bukan sebagai agama yang apatis. Islam mengajarkan umatnya untuk peka, sensitif, dan bergerak cepat ketika ada saudara yang membutuhkan. Allah Ta’ala berfirman dengan tegas dalam Al-Qur'an:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ٢
"Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Maidah: 2)
Ayat yang kerap dibacakan dalam khutbah ini bukanlah sekadar anjuran moral. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir (Juz 6, hal. 69) menjelaskan bahwa "kebaikan" (al-birr) yang dimaksud adalah kebaikan yang bersifat menyeluruh.
"Adapun maksud dari kebaikan di sini ialah setiap kebaikan yang diperintahkan oleh syariat, mencegah kemungkaran yang dilarang oleh syariat, atau sesuatu yang menenangkan hati," tulis Syekh Wahbah.
Artinya, memberikan sebungkus nasi kepada tetangga yang lapar, menyalurkan donasi untuk korban bencana, hingga sekadar mengucapkan kata-kata yang menenangkan hati saudara yang sedang tertimpa musibah, semuanya tercakup dalam perintah agung ini.
Umat Islam Bagai Satu Tubuh yang Saling Merasakan
Lebih jauh, Ibnu Asyur dalam tafsir Tahrir wat Tanwir (Juz 6, hal. 88) memberikan perspektif sosiologis yang sangat indah tentang perintah tolong-menolong ini. Ia menegaskan bahwa faidah dari saling membantu adalah mempermudah pekerjaan, menyempurnakan kemaslahatan, dan menampakkan persatuan.
"Hingga hal tersebut menjadi kebiasaan (kultur) di tengah masyarakat," tambah Ibnu Asyur.
Inilah esensi dari takaful (saling menjamin) dalam Islam. Umat Islam tidak boleh hidup dalam menara gading individualisme. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat emosional dan mendalam tentang solidaritas umat ini:
الْمُؤْمِنُوْنَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ إِنِ اشْتَكَى رَأْسُهُ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ
"Perumpamaan orang-orang beriman layaknya seorang laki-laki (satu tubuh). Apabila kepalanya sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit panas dan terjaga malam." (HR. Muslim)
Jika hari ini ada saudara kita di daerah bencana yang kehilangan tempat tinggal, apakah kita bisa tidur dengan nyenyak? Jika ada tetangga yang kelaparan, apakah kita bisa merasa kenyang sendirian? Hadis ini menampar ego kita, mengingatkan bahwa penderitaan satu orang adalah penderitaan bagi seluruh komunitas.
Langkah Konkret: Dari Empati Menuju Aksi Nyata
Jamaah yang dimuliakan Allah, memahami penderitaan orang lain hanyalah langkah awal. Empati tanpa aksi adalah lumpuh. Mari kita lihat sekitar kita dengan kacamata kepedulian.
- Peka terhadap Lingkungan Terdekat: Mulailah dari tetangga kanan-kiri. Jika ada yang terdesak ekonomi, bantu dengan makanan layak konsumsi atau sembako dari rezeki yang Allah titipkan.
- Gerak Cepat Tanggap Bencana: Jika ada saudara sebangsa yang tertimpa musibah, sisihkan sebagian harta untuk didonasikan melalui lembaga amanah.
- Kekuatan Doa: Jangan lupakan mereka dalam sujud dan doa-doa kita. Mintakan kepada Allah agar kesulitan yang mereka alami segera diangkat dan diganti dengan kelapangan.
Demikianlah refleksi dari Khutbah Jumat 13 November 2026 ini. Mari kita jadikan momentum ini untuk membersihkan harta melalui sedekah, membersihkan hati melalui empati, dan mempererat tali persaudaraan melalui aksi nyata. Semoga Allah SWT segera memberikan jalan keluar (makhraj) bagi setiap saudara kita yang sedang diuji perekonomiannya, dan memberikan kesabaran bagi para korban bencana. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
Teks Lengkap Khutbah Jumat (Untuk Panduan Imam/Khatib)
KHUTBAH I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التَّعَاوُنَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى مِنْ أَعْظَمِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، وَحَثَّ عِبَادَهُ عَلَى التَّرَاحُمِ وَالتَّكَافُلِ وَالتَّآخِي بَيْنَ الْأَنَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْٓا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٦
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, Sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan bagi kita untuk selalu memanjatkan puji dan syukur kepada Allah swt. Karena dengan berkat rahmat-Nya, kita masih bisa berkumpul di siang hari yang penuh berkah ini untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Shalawat beserta salam tak lupa semoga tercurahkan bersama kepada baginda kita, Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya yang istiqamah di atas jalannya. Aamin ya Rabbal ’alamin.
Khatib juga mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Saat ini, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menghadapi kesulitan ekonomi. Bencana alam di berbagai daerah, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan tekanan terhadap daya beli menjadi persoalan yang perlu kita perhatikan bersama. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak bersikap apatis terhadap penderitaan sesama. Kita diperintahkan untuk memiliki empati, peka terhadap keadaan sekitar, dan saling menolong ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan.
Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya empati dan peduli kepada sesama di tengah kesulitan. Mari kita doakan bersama saudara-saudara kita sesama umat Islam yang sedang dalam kesulitan. Khususnya bagi korban bencana yang belum pulih, yang sedang kesulitan ekonomi serta kesulitan lainnya yang sedang dialami. Semoga segala kesulitannya segera diberikan jalan keluar oleh Allah swt. amiin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
KHUTBAH II
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.
