unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Industri Drama Korea Krisis Parah, Asosiasi Minta Bantuan Pemerintah
Hiburan

Industri Drama Korea Krisis Parah, Asosiasi Minta Bantuan Pemerintah

Industri Drama Korea Krisis Parah, Asosiasi Minta Bantuan Pemerintah
Poster drama My Mister • TMDB
A A Ukuran Teks16px

Di balik gemerlap kesuksesan global drama Korea, industri produksinya di dalam negeri justru sedang terpuruk. Puluhan asosiasi industri kini bersuara lantang meminta bantuan pemerintah Korea Selatan.

Kekhawatiran itu disampaikan dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11). Hadir puluhan asosiasi industri, termasuk Korea Drama Production Association dan Korea TV & Radio Writers Association.

Korea JoongAng Daily melaporkan pada Kamis (5/11) bahwa para asosiasi menilai krisis ini bukan sekadar masalah keuangan sektoral, melainkan ancaman nyata bagi ekonomi Korean Wave secara nasional.

Makin Banyak Investasi, Makin Banyak Rugi

Presiden Korea Drama Production Association, Song Byeong-joon, mengakui drama Korea telah mendongkrak ekspor makanan, kosmetik, fesyen, dan pariwisata. Namun industri produksi drama domestik sendiri justru menghadapi krisis parah.

"Namun, industri produksi drama domestik justru menghadapi krisis yang parah," kata Song.

Naiknya biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi menciptakan struktur yang aneh: semakin banyak perusahaan berinvestasi pada sebuah tayangan, semakin banyak pula uang yang mereka hilangkan. Akibatnya, jumlah produksi terus menurun.

"Kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi telah menciptakan struktur di mana semakin banyak perusahaan berinvestasi pada tayangan, semakin banyak pula uang yang mereka hilangkan. Hal ini berujung pada menurunnya jumlah produksi," ujar Song.

Produksi Turun 30 Persen dalam Dua Tahun

Volume produksi drama Korea turun sekitar 30 persen dalam dua tahun, dari rekor 141 judul pada 2022. Stasiun free-to-air KBS, MBC, dan SBS bahkan merosot dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul tahun lalu, diperparah oleh iklan yang melemah.

Para pelaku industri menyalahkan platform streaming global seperti Netflix dan Disney+ yang dinilai mendistorsi standar biaya produksi dan membatasi kemampuan perusahaan lokal mempertahankan hak kekayaan intelektual (IP) mereka.

Tren kecerdasan buatan dan maraknya drama format pendek turut memperburuk situasi dan berdampak langsung pada lapangan kerja.

Talenta Muda Kehilangan Pekerjaan

Presiden Korea Drama Producers Association, Kim Jong-chang, menyebut talenta muda kehilangan kesempatan untuk membangun portofolio.

"Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini. Kami sadar harus beradaptasi dengan perubahan tren, tapi kenyataan yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," kata Kim.

Penulis Park Hae-young, penulis My Mister sekaligus ketua komite hak cipta di Korea TV & Radio Writers Association, menggambarkan dampaknya pada kru tingkat bawah. Para asisten penulis kini tidak punya pekerjaan.

"Biasanya, ketika saya merampungkan satu proyek, akan ada peluang baru yang bisa saya teruskan kepada para asisten penulis yang bekerja di bawah saya," kata Park.

"Tapi sekarang para asisten penulis itu tidak punya pekerjaan. Kita tidak boleh membiarkan industri ini menjadi terus bergantung dan dikendalikan oleh modal asing raksasa," lanjutnya.

Anggaran Justru Dipangkas

Respons pemerintah justru dinilai dingin. Rancangan anggaran Kementerian Kebudayaan untuk sektor ini dipangkas dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won untuk 2027.

Padahal pada 2025, ekspor Korean Wave mencapai US$18,98 miliar, di antaranya US$1,25 miliar berasal dari industri penyiaran dan video.

Kondisi ini kontras dengan Jepang yang agresif meminta anggaran lima kali lipat demi memompa ekspor konten menjadi US$1,6 miliar pada 2033.

Para pelaku industri menuntut kebijakan taktis pemerintah untuk memulihkan ritme produksi ke era sebelum platform streaming asing mendominasi, serta dana investasi jangka menengah dan panjang sebesar 1 triliun won khusus untuk produksi lokal.

"Dari kacamata ekosistem industri, jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting daripada satu drama yang meledak di pasaran," kata Song.

"Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang."

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru