PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menilai penguatan dolar Amerika Serikat berpotensi menekan permintaan kredit mobil baru.
Kondisi ini terjadi di tengah pasar otomotif yang sedang lesu.
Regional Branch Manager New Car 1 Jabo Adira Finance Sigit Rezhatama mengatakan kenaikan dolar turut mendorong kenaikan biaya bahan baku dan komponen kendaraan.
Hal ini memengaruhi minat konsumen untuk mengambil kredit kendaraan baru.
"Kalau permintaan (kredit) saat ini, saya coba nanya ke beberapa teman-teman di diler, memang secara demand untuk permintaan kredit khususnya mengalami penurunan.
Penurunannya itu bisa dibilang akibat dari kenaikan dolar.
Itu pasti bakal mengakibatkan beberapa komponen mobil yang pasti bakal membengkak secara biaya," ujar Sigit dalam media gathering Adira Expo 2026 di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Meski demikian, saat ini harga on the road (OTR) sejumlah kendaraan masih belum mengalami perubahan.
Sigit juga mengakui kondisi tersebut bisa berdampak terhadap suku bunga pembiayaan kendaraan ke depan.
Namun Adira Finance saat ini masih mempertahankan tingkat bunga pembiayaan yang berlaku dan belum melakukan penyesuaian.
"Kalau untuk segi bunga, saat ini Adira tetap menggunakan bunga yang sama, belum ada perubahan.
Memang kemarin dari manajemen pun secara cost of fund pasti kita bakal naik," terang dia.
Adapun meski belum memastikan waktu kenaikan bunga, Sigit menyebut tren suku bunga pembiayaan berpotensi meningkat ke depan.
"Jadi nanti kita juga bakal ada pengumuman tersendiri terkait kapan bunga kita bakal naik. Tapi yang harus saya sampaikan juga, memang dari suku bunga ini bakal naik," jelasnya.
Penyaluran Pembiayaan Stabil Berkat Diversifikasi Produk
Di sisi lain, Adira Finance mengklaim penyaluran pembiayaan di wilayah Jabodetabek masih relatif stabil. Hal ini karena ditopang diversifikasi produk pembiayaan.
Pelemahan permintaan pada segmen mobil baru masih bisa ditopang oleh pembiayaan produk lain, seperti mobil bekas dan pinjaman dana.
"Untuk di (pembiayaan) mobil sendiri, secara target kita masih inline. Dalam arti kita masih stabil.
Tidak ada penurunan sama sekali karena multi-product," ujar dia.
Terkait risiko kredit macet, Adira Finance mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Perusahaan memperketat proses seleksi nasabah dan menyiapkan langkah restrukturisasi apabila diperlukan.
"Ke depan kita lebih selektif untuk mengakuisisi customer.
Jadi customer saat ini tidak terlalu gampang untuk mengambil kredit, baik itu mobil baru, mobil bekas ataupun pinjam dana," ujar Sigit.
Perusahaan juga memanfaatkan sistem pengecekan riwayat kredit untuk meminimalkan risiko pembiayaan bermasalah di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sigit menambahkan bahwa kenaikan dolar AS berdampak pada biaya bahan baku dan komponen kendaraan, yang kemudian mempengaruhi minat konsumen untuk mengambil kredit mobil baru.
Meskipun harga OTR belum berubah, tekanan dari sisi biaya diperkirakan akan berlanjut.